Posts

Showing posts from 2015

Sakura

Image
    Julian mengadah, menatap pohon sakura yang bermekaran. Tangannya berusaha menggapai kelopak bunga sakura yang berjatuhan hingga kemudian ia tersadar bahwa gadis disampingnya sejak tadi hanya diam .    "Tidakkah kau pikir musim semi  ini begitu indah?" Tanya Julian yang kini berada tepat di depan wajah Rachel.     Rachel yang awalnya hanya menatap laki laki itu tanpa ekspresi  kemudian mengangguk tersenyum."Tidakkah kau pikir bahwa semuanya tidak ada yang abadi?" ucapnya balik bertanya. Julian mengernyit, masih menunggu kelanjutan dari perkataan gadis itu  Rachel terdiam sejenak, kemudian tangannya terulur untuk menangkap sakura yang kemudian jatuh tepat di telapak tangannya. "Semuanya tak ada yang abadi, karena setiap pertemuan selalu ada perpisahan."      Rachel kemudian mengadah, senyumnya melebar menatap sakura sakura yang berguguran. "Tapi semuanya indah. Jika perpisahan itu layaknya sakura. Perpisahan...

Sama?

Image
Jika rindu hanya bisa diam, lalu setelahnya bisa apa?      Diam bukannya tidak ada, cinta yang tak nampak bukan berarti hilang. Ketika jarak mulai merentang, mulai melebarkan jeda, bukankah sebuah kebohongan jika kita mengatakan bahwa semuanya akan sama? Tidak.     Seharusnya jarak mendekatkan rindu kita. Namun berbeda jika rindu itu kemudian berubah hanya sebatas kata tanpa makna, rindu yang seharusnya bertemu akhirnya menguap sebelum bertemu di perujungan jalan. Hingga keraguan itu muncul perlahan, kau disana namun rindu yang kau kirimkan sekarang tak lagi sama  rasanya.      Disini tak berubah, aku masih berdiri pada lingkar amanku. Masih berdiri pada titik awal saat kau mulai melebarkan langkahmu kemudian menyuruhku menunggu.       Awalnya semua berjalan baik baik saja. Masih sama sejak saat terakhir kali bertemu. Ketika rindu masih saling terpaut, hingga tepat ketika saat semuanya kemudian menguap....

Senja yang Pergi

Image
Saat ini adalah sejam yang lalu ketika perempuan bersweater biru berwajah murung memasuki café. Perempuan itu masuk ketika gerimis turun. Di rambutnya terlihat beberapa titik air yang menggantung seperti embun. Ia tampak acuh, terlihat juga pada kacamatanya yang ia biarkan basah tanpa punya niat sedikipun untuk membersihkan titik titik air tersebut. Ia kemudian memesan secangkir cappuchino panas dan sepiring panekuk. Langkahnya membawanya pada ujung ruangan, di bangku di mana ia bisa melihat hujan turun dari balik kaca café. Tanpa ada obrolan asing yang mengganggu, tanpa ada pasang mata yang membuatnya menjadi lebih terasing. Baginya, sunyi adalah bahasa, ketika ia kehabisan kata dan akalnya buntu akan pertanyaan yang tak kunjung ia dapatkan jawaban. Ya. Ia putus asa. Atas semua yang terjadi, pikirnya. Hari ini pun ia terlalu buruk. Ia seperti kehilangan kepekaannya. Kalau tadi orang-orang tidak berteriak gerimis, ia mungkin masih saja berdiri di dekat tiang halte bus. K...

Paket Rindu

Image
Paketnya sudah kukirim Kalo sudah sampai kabari aku ya Isinya cuma rindu, karena disini ruang penyimpannya sudah penuh Mau kau apakan itu terserah Itu untukmu, mau kau buangpun tak masalah Tapi kalau bisa, simpan saja Buat koleksi

Pergi

Image
Lihat! Sepatu dansaku rusak, dan kakiku terluka. Ah sial. Apakah aku bisa menari hanya dengan gaun, dan mahkota bunga dikepalaku? Sedangkan kaki kananku mengeluarkan darah segar. Ah, kenapa peri-peri hutan itu mengacaukan semuanya hah? Tapi tenanglah, aku tak akan mengurungkan niatku hanya karena ulah-ulah mereka. Tak peduli kaki kananku terluka, sepatu dansaku rusak, atau mataku yang berubah seperti mata panda. Yang kutahu, sekarang aku harus pergi. Ya, aku harus pergi ke pernikahannnya,   berdansa penuh kebencian, kemudian menghilang dari hidupnya. Tanpa harus menangisinya lagi. 

Rindu!

Image
Lihat, sekarang aku rindu. Setelah beberapa waktu aku bersusah payah untuk menghapus ingatanku darimu, tiba-tiba gerimis turun, dan menggagalkan usahaku hanya dalam beberapa detik. Kau tahu? Ini buruk, aku hanya ingin menerima kenyataan dengan baik. Aku tidak membencimu, aku hanya ingin kau tak lagi muncul dalam mimpi-mimpiku. Karena itu membuatku sesak. Setelah setahun terakhir aku melewati hari dengan susah payah, tentu aku tak ingin mengakhirinya dengan harapan yang tak masuk akal bukan? Kau sudah memberiku warna, memberiku sedikit kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya berharap, kau yang tanpa sadar memaksaku untuk terus mengingat kenangan. Aku bisa apa? Aku berutang padamu. Jujur, aku tak ingin mengatakan ini padamu. Tapi kau adalah mesin senyumku. Sebelum aku terluka karena perbuatanku sendiri. Ahaha. Aku bodoh kan? Kau tahu? Inilah alasanku ingin cepat-cepat pergi. Rasanya mengesalkan. Karena aku terus-menerus menyesalinya. Hei, kau bukan milikku. Tentu aku t...

Tokyo, dan Penyesalan

Image
Musim dingin Tokyo. Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi Akira ketika menatap gadis bermata cokelat blasteran Indonesia-Jepang ketika aku menemuinya di Rumah Sakit minggu lalu. Sejak saat itu aku tahu bahwa Akira menyukainya. Hari ini udara cukup dingin. Sutradara berkata syuting ditiadakan untuk sementara waktu. Aku pikir ini kesempatan bagus. Salad dan komik romantis tidak cukup buruk untuk menggantikan hobi berbelanja yang biasa kulakukan kala aku mendapat jatah libur.  Tentu saja, jika bukan karena musim dingin, aku pasti sudah berkelana kemanapun aku ingin pergi.  “Yuki.” Akira menyentuh pundakku, tanpa menolehpun aku tahu siapa dirinya, karena hari ini ia berjanji untuk menemuiku. Tentu.  Aku tidak perlu menjawab sapaannya, aku pikir dia terbiasa dengan sikap dinginku. Akira menghempaskan diri di atas sofa. Dan hari ini aku tahu apa yang akan ia katakan. “Bukankah kau masih menyukainya?”  “Siapa?” Aku menoleh, kemudian menutup komik....

I'll Wait!

Image
Kita akan bertemu di perujungan jalan nanti Aku terlalu percaya bahwa perkataan itu punya kekuatan yang berarti. Aku terlalu percaya bahwa kita akan bertemu nantinya. Aku terlalu percaya bahwa semuanya akan berjalan seperti apa yang kuinginkan. Kau untukku. Namun malam ini ragu itu mengusikku lagi tuan. Bohong jika selama ini aku tak punya keraguan. Karena malam ini juga aku menangisimu lagi. Menangis tanpa sebab dengan sesak yang tak bisa kujelaskan disini. Sesak yang mampu membuatku sulit bernafas. Mataku sembab, ini lebih hebat dari malam-malam sebelumnya. Semua lagu yang kuputar seakan berubah menjadi potongan rindu yang mulai menggembung tinggi. Menyesakkan semuanya. Aku sedang berjuang disini. Menjadikanmu sebagai bagian dari doa, berharap Tuhan tak akan ingkar atas doa-doaku. Termasuk pertemuan kita. Namun perasaan buruk itu menghantuiku lagi. Jika tiba-tiba kau pergi, jika tiba-tiba kau menyerah, dan berhenti menunggu. Aku takut itu terjadi. Aku menyayangim...

Mimpi dan Pertemuan

Image
“Aku bahagia bisa bertemu denganmu.” “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” “Tidak. Tapi aku mengenalmu, aku bahkan mengetahui namamu.” “Bagaimana bisa? Apa aku yang lupa?” “Tidak, kau tidak lupa. Kita memang belum pernah bertemu.” “Lalu?” “Kita pernah bertemu dalam mimpi. Dan diawal mimpi kita kau membuatku menangis.” “Benarkah?” “Ya. Untuk pertama kalinya aku mengagumi orang asing yang bahkan belum pernah kutemui.” “Tapi ini pertemuan kita yang pertama kan?” “Kau benar. Maaf, aku mengatakan hal konyol ini padamu. Tapi mimpi itu tiga tahun yang lalu.” “Apa kau juga menungguku selama itu?” “Ya.” “ Dalam mimpimu aku membuatmu menangis. Kenapa kau malah mengagumiku dan menungguku selama itu?” “Tidak tahu. Rasa itu muncul begitu saja.” “Kau punya alasan kita bertemu hari ini?” “Itu karena Tuhan punya rencana baik untuk kita. Pertemuan kita sangat special.” “Kenapa kau percaya?” “Kenapa aku tidak boleh percaya?” “Kita berdua orang asing. Kenapa ka...

Paris dan Peri-Peri Langit

Image
Julian mengadah. Lelaki asal Inggris itu sejak tadi  hanya terdiam sambil membiarkan gerimis kecil membahasi tubuhnya. Pikirnya ini langka. Gerimis yang ia rasakan di Montmartre seperti menghipnotisnya dengan tiba-tiba, serta membuat lelah yang ia rasakan hilang. Museum Louvre telah menyita banyak waktunya hari ini. Padahal sepanjang hari ia hanya berjalan, dan melihat. Cukup terhibur oleh Lukisan Monalisa karya La Jaconde atau masterpiece lain yang masih menjadi primadona sampai sekarang. Julian merasa cukup puas, meskipun ia sedikit bosan. Ada 35 ribu karya seni, dan Julian sudah melihat semuanya dalam sehari. Julian menatap jam berwarna coklat tua yang terpasang di tangan kirinya. Pukul empat sore. Pandangannya kemudian tertumbuk pada kamera DSLR yang terkalung di dadanya. Kamera yang sempat ia lindungi dari gerimis, dan kamera yang telah merangkum perjalanannya selama ini. Bersama gadis yang menjadi alasan utama mengapa ia berada di sini. “Monsieur, kau ...

You.

Image
"Sometimes the best memories are sad. Because you know they will never happen again." "The story ended without even starting :(" "Thanks for the friendship. Thanks for the smile :)" "Maybe Someday...." "We will meet again"  30-04-2015

Dandelion - Tentang Kau dan Perpisahan

Image
Dandelion ini selalu berhasil mengembalikan ingatanku padamu. Tentang Juni yang hampir tiba, dan waktu pertemuan kita yang sebentar lagi habis terkikis. 4/5/2015 Juni nanti kita berpisah. Kembali menjadi sunyi, dan melangkah lagi bersama harapan-harapan usang, bersama catatan di lembar akhir berupa ending dari sebuah pertemuan. Juni nanti kita berpisah. Kembali menapaki jalan sendiri    dan kembali menangisi jarak kita yang semakin lebar. Bersama perjalanan yang hampa aku mengenangmu sendiri. Menguapkan rindu yang semakin hari menjelma menjadi rasa sakit. Juni nanti kita berpisah. Bersama nyanyian selamat tinggal, aku hanya ingin menjadi airmata. Yang tak pernah berhenti menarasikan kisah-kisah pendek tentang kita. Airmata untuk melunasi rindu yang hanya bisa kuungkapkan lewat aksara. Airmata untuk melunasi rasa yang belum genap, serta rentetan tangis di perjalanan yang telah lalu. Juni nanti kita berpisah. Aku mengenang namamu sebag...