Paris dan Peri-Peri Langit




Julian mengadah. Lelaki asal Inggris itu sejak tadi  hanya terdiam sambil membiarkan gerimis kecil membahasi tubuhnya. Pikirnya ini langka. Gerimis yang ia rasakan di Montmartre seperti menghipnotisnya dengan tiba-tiba, serta membuat lelah yang ia rasakan hilang.

Museum Louvre telah menyita banyak waktunya hari ini. Padahal sepanjang hari ia hanya berjalan, dan melihat. Cukup terhibur oleh Lukisan Monalisa karya La Jaconde atau masterpiece lain yang masih menjadi primadona sampai sekarang. Julian merasa cukup puas, meskipun ia sedikit bosan. Ada 35 ribu karya seni, dan Julian sudah melihat semuanya dalam sehari.

Julian menatap jam berwarna coklat tua yang terpasang di tangan kirinya. Pukul empat sore. Pandangannya kemudian tertumbuk pada kamera DSLR yang terkalung di dadanya. Kamera yang sempat ia lindungi dari gerimis, dan kamera yang telah merangkum perjalanannya selama ini. Bersama gadis yang menjadi alasan utama mengapa ia berada di sini.
“Monsieur, kau tidak apa-apa?”
Julian segera berbalik badan, dan sedikit terkejut. Gadis yang memakai jepit rambut berwarna pelangi, dan bermata hazel itu menatap ke dasar mata Julian. Gadis itu tersenyum, membuat Julian sedikit mengerutkan dahi.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Julian.
Gadis itu mengulurkan tangan, dan menyerahkan saputangan berwarna pelangi. Ya, warna yang sama seperti jepit rambut yang gadis itu pakai. “Ini, ambillah. Gerimis membuat wajahmu dipenuhi tetes-tetes air.”
Julian menerimanya, dan sadar bahwa gadis itu berkata benar. Ia mengelap wajahnya, dan ketika ia akan mengembalikan saputangan tersebut, gadis berambut pirang dan bersyal merah itu sudah pergi.  
Laki-laki itu sadar. Julian mendongak dan pelangi terlihat jelas di atas langit.

-----
Julian menatap gadis yang terbaring dengan infus di tangannya. Sudah seminggu lebih gadis itu harus dirawat di sebuah rumah sakit ternama di Paris. Rachel, ya, gadis Perancis yang memberinya alasan mengapa ia berada di sana sekarang. Gadis Perancis yang sangat disayanginya. 
“Wow… potretanmu luar biasa,” ujar Rachel. Matanya tak beralih sedikitpun dari layar kamera milik Julian. “Sudah kubilang kan Montmartre sangat indah. Kau hebat, kau bahkan berhasil melihat semua masterpiece di Museum Louvre hanya dalam sehari. Kau kan gampang bosan.”
Julian tertawa pelan. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan Rachel. Orangtua angkat Rachel sedang keluar, sehingga yang bisa menjaga Rachel sekarang hanyalah Julian.
“Kau penikmat seni, jadi kupikir kau akan menyukainya,” ujar Julian. “Kau tahu? Tadi ada pelangi di langit Montmartre. Indah sekali,” lanjut Julian, tiba-tiba ia teringat pada gadis pemberi saputangan tadi.
Rachel mengalihkan perhatiannya kepada Julian. Mata birunya terlihat penuh penasaran, “Benarkah? Ah harusnya aku ikut tadi. Ahh aku jadi merindukan London kan.” Rachel mendengus berlebihan.
Julian tersenyum kecil, matanya tertumbuk pada cincin yang terpasang di jari manis Rachel, cincin pertunangannya dengan gadis itu . “Kau harus sembuh dulu. Nanti setelah itu kita bisa melihat pelangi bersama-sama.” Julian membelai rambut Rachel.
“Baiklah. Kita akan menunggu pelangi itu tiba bersama-sama. Dan peri langit akan turun menyapa kita.” Rachel tersenyum lebar. Dan Julian hanya mengiyakan imajinasi Rachel seperti biasa. 
“Peri dari langit? Kau percaya itu ada?” Tanya Julian sambil memijat kecil punggung tangan Rachel.
Rachel mengangguk pasti, “Ada. Peri yang cantik, bibir yang merah, sayap yang indah, tubuh yang putih, mata yang mengagumkan. Kau tahu? Tadi siang aku menghabiskan waktuku untuk melukis.”
“Kau melukis apa?” Tanya Julian.
“Tidak tahu. Kau pasti akan melihatnya, tapi tidak sekarang,” jawab Rachel. “Besok kau tidak boleh ada di sini.”
Julian mengerutkan keningnya, “Kenapa? Besok aku akan menemanimu seharian penuh.”
Rachel menggeleng, “Tidak boleh.”
“Alasannya?” Julian mengangkat alis kanannya, sambil menatap jahil Rachel.
“Besok pasti gerimis, dan pelangi akan muncul. Eiffel pasti terlihat indah. Besok kau pergilah kesana, dan berikan potretanmu padaku. Aku merindukannya, kunjungan terakhir kita bahkan saat kau kuliah dulu. Itu sudah lama. Bagaimana?"
Julian mengangguk, kemudian mencium kening Rachel. “Je t'aime pour toujours et à jamais. Bonne nuit ”
Rachel tersenyum kemudian membisikkan sesuatu di telinga Julian, “Merci. Aku menyayangimu juga,” ucap Rachel kemudian menutup matanya.
Julian tersenyum, ia melangkah ke luar ruangan. Airmatanya menetes, dan terus menetes. Ia bahkan tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Rachel.
-------
 Julian meluruskan kaki setelah berkeliling sebentar di Notre Dame. Ia menyempatkan waktu untuk ke gereja sebelum akhirnya pergi ke Menara Eiffel. Ia menyesap kopi khas Perancis, sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Pikirannya kemudian melayang ke waktu dimana ia dan Rachel mengunjungi gereja bersama, dan berjalan-jalan untuk melihat lukisan yang dijual oleh pedagang ataupun karya seni antik. Ia yakin Rachel merindukan bunyi lonceng gereja di Notre Dame. 
Beberapa jam kemudian…
Julian bersyukur, pengunjung Eiffel tidak sepadat yang ia bayangkan. Ia berhasil mendapatkan tiket dengan mudah. Julian kini berada di lantai tiga. Pikirannya teringat kembali ketika ia menghabiskan waktunya dengan Rachel di restoran Le Jurles Verne, restoran yang berada di lantai dua sekaligus restoran kesukaan Rachel. Gadis itu pasti merindukan kerlip lampu malam kota Paris.
Julian memutuskan untuk kembali ke bawah, dan mengabadikan Eiffel untuk ia tunjukkan pada Rachel. Laki-laki itu kemudian merapatkan jaketnya, dan mengadah. Julian menyadari bahwa langit perlahan gelap. Ia bergegas menuju Café Constant untuk berteduh karena gerimis turun semakin deras.
Tiba-tiba perasaan Julian tidak tenang. Ia mengeluarkan ponselnya, menatapnya lekat-lekat. Namun tidak ada panggilan ataupun pesan untuknya. Julian ingat betul ketika tadi malam orangtuanya mengatakan bahwa keadaan Rachel semakin memburuk. Ya, penyakit jantung telah merampas harapan hidup gadis itu. Dan harapannya. 
Julian menahan airmata yang ada di pelupuk matanya. Pikirannya memutar kembali percakapannya dengan Rachel kemarin malam.  Serta alasan mengapa Rachel menolak ketika Julian menawarkan bahwa ia akan menjaganya hari ini.
Airmata Julian turun begitu saja. Ia teringat dengan saputangan rainbow yang diberikan oleh perempuan asing kemarin sore. Ia segera mengambil dari sakunya, dan menghapus airmatanya.
"Kau tidak boleh membenci hujan, hanya karena tetesan yang deras itu akan menggantung kita di waktu yang tidak menentu. Kau juga tidak boleh membenci pelangi, karena ia hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat.” kata seseorang di sebelah Julian. Gadis bermata cokelat, dengan rambut diikat dengan karet berwarna warni. 
Julian menoleh, ia tidak tahu sejak kapan perempuan itu ada di sebelahnya. Ia mengamati payung yang berada di genggaman perempuan itu.. “Ya. Itu benar,” ucap Julian, mengingatkannya pada kata-kata Rachel.
Hujan berubah menjadi gerimis. Dan pelangi terlihat di atas Menara Eiffel. Julian tersenyum, dan segera mengabadikannya dengan kamera DSLR miliknya.  
Namun pelangi itu hilang dengan segera, dan gerimis berubah menjadi hujan lebat.
“Hujan?” Julian mengernyit. Dan ponselnya berdering, “Allô!... Rachel?... Baiklah..."
Julian memutuskan untuk menembus hujan, namun seseorang menahannya.
“Mademoiselle… maaaf bisa kau lepas tanganmu? Aku terburu-buru.” Julian menatap perempuan yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ada raut cemas di wajah Julian,
“Maaf. Kameramu bisa rusak karena hujan. Kau bisa memakai payungku.” Perempuan itu menyerahkan payungnya pada Julian. Ketika Julian membuka payung tersebut, ia menoleh untuk mengucapkan terimakasih. Namun perempuan itu tidak ada di sana. 
Julian mengadah, dan menatap payung pemberian perempuan itu. Payung berwarna pelangi.
----------

Rachel hanya diam. Ya. Ketika Julian menangis dan meminta Rachel untuk tidak pergi, gadis itu terus menutup mulutnya. Ketika Julian mengatakan bahwa ia mencintainya, Rachel tidak menjawab. Gadis itu hanya diam, dan menutup mata. Hidungnya tidak menandakan bahwa ia sedang bernafas. Semua alat-alat kedokteran hanya tergeletak di samping Rachel. Tangannya tidak lagi diinfus.
Suasana semakin sunyi. Hanya ada isak tangisnya.
Julian menghapus airmatanya dan mengecup kening Rachel untuk keterakhir kalinya. Kemudian matanya tertumbuk pada lukisan yang tertutup kain di pojok ruangan. Ia segera bangkit dan membukanya.
Menara Eiffel dan tiga peri di atas pelangi. Julian tertegun. Saputangan rainbow, dan payung warna-warni. Laki-laki itu menyadari bahwa dua barang itu adalah milik dua orang perempuan asing yang kemarin bertemu dengannya. Kemudian mata Julian terpaku ketika melihat peri dan sebuah cincin di tangannya.
“Rachel…” Ucapnya kemudian terdiam terpaku. 
Gerimis di luar tiba-tiba reda. Sore ini pelangi kembali muncul. Ya pelangi muncul dua kali dalam sehari di langit Paris. 
Julian kemudian teringat bagimana ia bertemu dengan Rachel untuk pertama kalinya. Bau tanah sehabis hujan dan pelangi di atas langit Perancis. 
Dongeng itu membuat Julian berpikir berulang kali. 

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan