Sakura

 
  Julian mengadah, menatap pohon sakura yang bermekaran. Tangannya berusaha menggapai kelopak bunga sakura yang berjatuhan hingga kemudian ia tersadar bahwa gadis disampingnya sejak tadi hanya diam . 
  "Tidakkah kau pikir musim semi  ini begitu indah?" Tanya Julian yang kini berada tepat di depan wajah Rachel.
    Rachel yang awalnya hanya menatap laki laki itu tanpa ekspresi  kemudian mengangguk tersenyum."Tidakkah kau pikir bahwa semuanya tidak ada yang abadi?" ucapnya balik bertanya. Julian mengernyit, masih menunggu kelanjutan dari perkataan gadis itu
 Rachel terdiam sejenak, kemudian tangannya terulur untuk menangkap sakura yang kemudian jatuh tepat di telapak tangannya. "Semuanya tak ada yang abadi, karena setiap pertemuan selalu ada perpisahan."
     Rachel kemudian mengadah, senyumnya melebar menatap sakura sakura yang berguguran. "Tapi semuanya indah. Jika perpisahan itu layaknya sakura. Perpisahan yang terjadi sementara, hingga musim berganti kemudian rindu kita terbayarkan ketika sakura itu mulai mekar dan berguguran lagi seperti sekarang."
  Julian kemudian tersenyum. Bahkan untuk sementara pun ia tak rela berpisah dengan Rachel, gadis sakuranya. Ia ingin menjadi musim semi untuknya yang tak bisa berganti, agar sakura selalu mekar dan tak pernah pergi.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan