Rindu!



Lihat, sekarang aku rindu.
Setelah beberapa waktu aku bersusah payah untuk menghapus ingatanku darimu, tiba-tiba gerimis turun, dan menggagalkan usahaku hanya dalam beberapa detik. Kau tahu? Ini buruk, aku hanya ingin menerima kenyataan dengan baik. Aku tidak membencimu, aku hanya ingin kau tak lagi muncul dalam mimpi-mimpiku. Karena itu membuatku sesak.
Setelah setahun terakhir aku melewati hari dengan susah payah, tentu aku tak ingin mengakhirinya dengan harapan yang tak masuk akal bukan? Kau sudah memberiku warna, memberiku sedikit kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya berharap, kau yang tanpa sadar memaksaku untuk terus mengingat kenangan. Aku bisa apa? Aku berutang padamu. Jujur, aku tak ingin mengatakan ini padamu. Tapi kau adalah mesin senyumku. Sebelum aku terluka karena perbuatanku sendiri. Ahaha. Aku bodoh kan?
Kau tahu? Inilah alasanku ingin cepat-cepat pergi. Rasanya mengesalkan. Karena aku terus-menerus menyesalinya.
Hei, kau bukan milikku. Tentu aku tak punya hak untuk berkata bahwa aku telah melepaskanmu, aku takut itu terlalu lancang. Mungkin ‘menerima’ akan terdengar lebih sopan. Karena aku sudah menerima hatiku kembali. Meskipun sedikit retak. Aku bahkan lupa sudah berapa lama aku membiarkanmu menggantungkan hatiku begitu saja di jemuran baju milikmu. Hingga akhirnya aku sadar ketika kau mengembalikannya padaku. Aku tahu ada yang berbeda. Hatiku tak lagi sekuat dulu. Sudah keropos di makan musim, sudah rapuh.
Aku tak menyalahkanmu. Orang pandai pun tak bisa luput dari lupa kan? Mungkin hatiku bukanlah sesuatu yang penting. Jadi kau pasti melupakannya.
Karena itu aku berhenti berharap. Karena aku pengecut.
Tuan, ketika aku melihat gadis lain mengejarmu dengan berani. Saat itulah aku terluka, karena aku sadar aku tak pantas untukmu. Mereka punya keberanian untuk mengungkapkannya padamu, mereka punya kekuatan untuk membuatmu terus tersenyum dan tertawa. Hingga akhirnya aku mulai menyakiti diriku sendiri dengan berbohong bahwa aku membencimu.
Sekarang aku tak ingin berbohong lagi. Namun kau juga tak perlu tahu bahwa selama ini aku telah menyukaimu. Pengaggummu yang lain pasti lebih dulu mengatakan itu padamu, kan?
Sekian minggu sudah terlewati, sementara kesempatan untuk bertemu denganmu tak tahu kapan lagi.
Tuan, aku merindukanmu.
Bisakah kau berikan aku senyum di perpisahan nanti?
Atau sekedar jabat tangan tanpa kontak mata, yang mampu mengakhiri semuanya. Termasuk harapanku, dan cerita tentang aku yang jatuh cinta.
Aih, aku terlalu berlebihan.
Terimakasih. Untuk hujan sore ini yang menghabiskan sesal dan rinduku selama ini. 
01062015

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan