Tokyo, dan Penyesalan
Musim dingin Tokyo. Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi Akira ketika menatap gadis bermata cokelat blasteran Indonesia-Jepang ketika aku menemuinya di Rumah Sakit minggu lalu. Sejak saat itu aku tahu bahwa Akira menyukainya. Hari ini udara cukup dingin. Sutradara berkata syuting ditiadakan untuk sementara waktu. Aku pikir ini kesempatan bagus. Salad dan komik romantis tidak cukup buruk untuk menggantikan hobi berbelanja yang biasa kulakukan kala aku mendapat jatah libur. Tentu saja, jika bukan karena musim dingin, aku pasti sudah berkelana kemanapun aku ingin pergi. “Yuki.” Akira menyentuh pundakku, tanpa menolehpun aku tahu siapa dirinya, karena hari ini ia berjanji untuk menemuiku. Tentu. Aku tidak perlu menjawab sapaannya, aku pikir dia terbiasa dengan sikap dinginku. Akira menghempaskan diri di atas sofa. Dan hari ini aku tahu apa yang akan ia katakan. “Bukankah kau masih menyukainya?” “Siapa?” Aku menoleh, kemudian menutup komik....