Posts

Showing posts from May, 2014

Sebelum Detik Berdetak-

Image
Jiwa yang lusuh ini masih ada. Kusut menunduk di pojok sendiri, di dalam dunia yang ia ciptakan, tanpa membiarkan seorangpun masuk, mengobrak abrik semua ketenangannya, kemudian kembali hancur. Seperti jiwanya dulu sebelum jiwanya yang sekarang ia kenal. Didalam jiwa itu tak ada kata, rohnya diam. Kepercayaannya hilang pada sesama, ia tak mengenal lagi manusia. Padahal dirinya masih menjadi manusia, ia belum mati. Tapi ia merasa tak ada, jasadnya masih berdiri tegak tetapi ia tak bisa bergerak. Tenaganya untuk hidup seakan menguap, hanya tertinggal jiwa yang tak tahu lagi akan bagaimana. Tak tahu juga akan kemana, memangnya ia punya tujuan ? Bahkan semua persepsinya telah terkubur, ia menguburnya sendiri. Kemudian dikunci, tanpa sekalipun berusaha untuk menggali dan memperbaikinya lagi. Kesendiriannya itu semakin membengkak, terpecah, kemudian mengacaukan semuanya. Jiwa yang seperti benang-benang halus itu kemudian meruwet, terikat tak teratur, tak tersusun lagi. Sepe...

Tak Ingat Lagi~

Image
-Senja… jangan ingatkan aku lagi tentangnya dalam memoriku. Aku bosan, aku tak ingin lagi perasaan ini ada. Terus menerus mengendap.  Tak bisakah angin membiarkan rasa ini menguap? Perlahan kemudian pergi hingga jejaknya tak ada lagi ? Ah… siapapun itu. Rasa ini menyakitkan, menahan diri, memendam rindu, memendam perasaan sendiri. Menangis dalam hati hingga yang tersisa kemudian hanyalah serpihan-serpihan yang telah rapuh. Hanya kabut yang kemudian menghalangi setiap sudut dalam hati. Sampai sampai aku sendiri tak sadar, setetes air yang dulu kering, kini mencuat perlahan, menciptakan sedikit celah untuk mengalir. Membuat luka yang baru saja mongering, terbuka kembali. Perih. Bisakah ? Rasa ini begitu menyesakkan. Aku ingin lupa, aku tak ingin mengingatnya. Cinta ini ada untuknya. Tapi, sebagai seorang pengagum, apakah aku boleh menentang semua yang ada ? Mengungkapkan perasaan-misalnya ? Memangnya aku siapa ?  Ya… aku bukan siapa-siapa. Dia juga bukan siapa-si...

Analogi Hujan :)

Image
Aku selalu menunggumu bersama rintikan hujan Duduk di bawah pohon, meluruskan kaki, mengenai ilalang yang basah karena hujan Yang membawa titik-titik air berisi cerita lampau Dari gerimis yang jatuh satu-satu dan tak kunjung berhenti Membiarkan sapuan gemerisiknya menerpa pelan Menghilangkan sedikit rasa rindu yang hanya tersapu sesaat Otakku berputar begitu cepat Menghadirkan kembali videomu yang terekam dalam memori otakku Membayangkan dirimu yang duduk manis Sambil menghayati ritme dari hujan sore ini Mereka bilang hujan menyimpan air mata Apalagi ketika tetesan air itu terdengar indah ditelinga Membawa irama hampa tetapi terasa Dan memutarkan kembali serpihan-serpihan memori yang tak kunjung dapat dilupakan Seperti cinta yang semu tetapi ada ----------

Cinta Sendiri ? Menyakitkan ?

Image
Sebelumnya aku hanya seorang pengagum kecil, yang menjadikannya sebagai idola. Selalu menatapnya dari sini, dari kejauhan. Dan itu cukup berhasil membuat jantungku berdetak tak karuan. Lucu. Terkadang juga aku memanggil lirih namanya dan langsung melompat kegirangan bila dia tak sengaja menoleh ke arahku. Meskipun ku tau itu hanya suatu kebetulan yang bisa disebut keberuntungan. Mungkin Dewi Fortuna sedang ada dipihakku saat itu. Lama-lama perasaan ini tumbuh subur meskipun tak pernah aku beri pupuk. Aku membiarkannya mengalir, melaju, mengikuti arus sungai dengan tenang. Sampai tiba saatnya titik jenuh muncul mengacaukan ketenanganku. Aku jenuh melihatnya dari kejauhan. Aku jenuh menyebut namanya lirih. Aku jenuh mengaguminya diam-diam. Aku jenuh. Hatiku mulai memberontak, membabi buta melawan logika yang ada. Tapi aku bisa apa, Tuhan? Aku memang terlalu melebih-lebihkan keadaan. Berharap terlalu besar dan akhirnya sakit terlalu dalam. Memang benar, mencintai   akan inda...

Bahagia Itu Sederhana :)

Image
Tak selamanya liburan itu menyenangkan. Begitu membosankan malah. Tanpa novel, tanpa komik, tanpa coklat, dan em, tanpa kamu. Alasan terakhir terdengar lucu ya. Menggelitik. Tapi begitulah kenyataannya. Aku tak semunafik para koruptor yang mengumbar janji di tv itu kan? Jemariku tak berhenti menari-nari diatas keyboard. Merangkai kata-kata yang tak bisa dibilang indah namun cukup menggetarkan hati. Dan kamu tau? Semua katanya tertuju untukmu, sayang. Ini terjadi everytime dan yang sangat menyebalkan lagi aku membiarkannya muncul everywhere. Khayalan tentangmu. Memori indah tentangmu yang tak pernah bosan kuingat.           Kuambil hp butut yang setia dan selalu ada disampingku. Kuketikkan sedikit pesan untukmu. Kutuliskan nomormu yang sudah kuhapal diluar kepala di kolom penerima. Tak berapa lama kemudian, hpku bergetar. Bodohnya, aku tak bisa menahan senyumku yang mulai mengembang, pipiku yang mulai memerah, jantungku yang seakan m...