Tara
Tara tersenyum kecil, matanya tersirat kebahagiaan tersembunyi dari dalam benak hatinya kala sesosok lelaki tertangkap dari sudut matanya, berjalan tak jauh dari tempatnya berada. Tara mengagumi setiap langkah lelaki itu. Baginya, pria itu pemilik senyum paling istimewa yang pernah ia temui. Entah mengapa, rasanya tawa lelaki itu begitu magis, membuat jantungnya berdebar tanpa alasan, membuat kaki-tangannya dingin, membuat semacam desiran aneh yang tiba-tiba muncul dalam hatinya, menciptakan sebuah perasaan baru tanpa aba-aba. Hingga ketika ia menyadarinya, Tara tahu bahwa perasaannya berkata bahwa ia mencintai lelaki itu. Tara membalikkan badannya. Memilih untuk berjalan menjauh, memilih untuk mengabaikan perasaannya yang semakin hari semakin membuat hatinya nyeri. Baginya itu adalah pilihan terbaiknya. Pilihannya untuk mengabaikan hati kecilnya, bahwa memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia takut jatuh terlalu dalam, sudah cukup rasanya merasakan bagaimana mengga...