Tokyo, dan Penyesalan




Musim dingin Tokyo.

Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi Akira ketika menatap gadis bermata cokelat blasteran Indonesia-Jepang ketika aku menemuinya di Rumah Sakit minggu lalu. Sejak saat itu aku tahu bahwa Akira menyukainya.
Hari ini udara cukup dingin. Sutradara berkata syuting ditiadakan untuk sementara waktu. Aku pikir ini kesempatan bagus. Salad dan komik romantis tidak cukup buruk untuk menggantikan hobi berbelanja yang biasa kulakukan kala aku mendapat jatah libur. Tentu saja, jika bukan karena musim dingin, aku pasti sudah berkelana kemanapun aku ingin pergi. 
“Yuki.”
Akira menyentuh pundakku, tanpa menolehpun aku tahu siapa dirinya, karena hari ini ia berjanji untuk menemuiku. Tentu. Aku tidak perlu menjawab sapaannya, aku pikir dia terbiasa dengan sikap dinginku. Akira menghempaskan diri di atas sofa. Dan hari ini aku tahu apa yang akan ia katakan.
“Bukankah kau masih menyukainya?” 
“Siapa?” Aku menoleh, kemudian menutup komik.
Mata kami bertemu. Ia seperti menahan nafas. “Heiji.
Dan aku tak punya niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaannya.
Aku dan Heiji saling menyukai bahkan sebelum aku dan Akira bertunangan. Heiji, laki-laki asal Kyoto. Aku mengenalnya ketika ia menjadi peran utama sebuah film dan aku dipasangkan dengannya. Hubungan ku dengan Heiji tidak terputus meskipun orangtuaku tetap memaksaku untuk bertunangan dengan laki-laki yang sedang duduk tak jauh dariku. Akira, dokter muda yang pintar, mereka selalu menyebutnya seperti itu. Tidakkah kau merasa mereka terlalu berlebihan? Cih.  
Namun semuanya berakhir ketika Heiji pergi dan mencampakanku. Hingga sekarang Akira tidak pernah tahu bahwa aku dan heiji telah berpisah.
Tetapi semuanya berubah. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku tak menyukai Akira. Cukup lama aku bertahan dengan penyangkalanku, hingga pada akhirnya aku tahu ada yang berubah dalam perasaanku . Semacam ketidakrelaan ketika aku melihat Akira menyukai gadis lain. 
“Aku pikir pertunangan kita tidak lagi berarti.  Hati kita sama-sama berada di tempat lain, bukan?” Akira mengatakan apa yang kutakuti selama ini.
Aku tertegun. “Apakah kau menyukai gadis yang sering mengunjungimu di rumah sakit itu?
Akira mengangguk pasti.  Sejak saat itulah aku merasa bahwa aku terlalu jahat. Setelah sekian lama aku bersikap buruk padanya, kini dengan bodohnya aku menginginkan agar ia tetap berada di sampingku. 
Karena, di setiap pertemuanku dengannya selalu timbul rasa gelisah. Karena di sela kesibukanku aku selalu mengunjunginya diam-diam. Dan pada saat bersamaan aku melihat lelaki itu tersenyum hangat dan menatap lekat gadis bermata cokelat yang duduk bersama di taman belakang rumah sakit. Satu hal yang kutahu. Mereka saling mencintai. 
Aku ingat saat itu airmataku turun begitu saja.
Saat itu juga aku sadar. Sama seperti gadis bermata cokelat itu, akupun menyukai Akira.
Dan itu kali pertama aku merasakan penyesalan yang tidak ada habisnya dalam hidupku.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Mimpi dan Pertemuan