Senja yang Pergi
Saat ini adalah sejam yang lalu ketika perempuan bersweater
biru berwajah murung memasuki café. Perempuan itu masuk ketika gerimis turun.
Di rambutnya terlihat beberapa titik air yang menggantung seperti embun. Ia
tampak acuh, terlihat juga pada kacamatanya yang ia biarkan basah tanpa punya
niat sedikipun untuk membersihkan titik titik air tersebut.
Ia kemudian memesan secangkir cappuchino panas dan sepiring
panekuk. Langkahnya membawanya pada ujung ruangan, di bangku di mana ia bisa
melihat hujan turun dari balik kaca café. Tanpa ada obrolan asing yang
mengganggu, tanpa ada pasang mata yang membuatnya menjadi lebih terasing.
Baginya, sunyi adalah bahasa, ketika ia kehabisan kata dan akalnya buntu akan
pertanyaan yang tak kunjung ia dapatkan jawaban.
Ya. Ia putus asa. Atas semua yang terjadi, pikirnya.
Hari ini pun ia terlalu buruk. Ia seperti kehilangan
kepekaannya. Kalau tadi orang-orang tidak berteriak gerimis, ia mungkin masih
saja berdiri di dekat tiang halte bus. Kalau saja tadi pagi kucingnya tidak
membangunkan tidurnya, mungkin ia masih terlelap bersama mimpi buruknya. Dan
kalau saja harap yang tersisa sedikit itu hilang, mungkin saja hari ini ia
sudah melayang. Menatap sendiri jasadnya yang terkapar karena dehidrasi setelah
ia tak kunjung berhenti menangis.
Seperti hari ini. Bahkan orang-orang yang berada di dekatnya
tak punya cukup keberanian untuk sekedar mendekati dan menenangkannya. Rasa
kehilangan itu sudah membuatnya seperti mayat hidup.
Beberapa waktu kemudian, café itu sepi. Tepat ketika
gerimis itu berganti menjadi hujan yang turun begitu deras, dan suara petir
yang terdengar begitu menggelegar.
Namun tiba-tiba tubuhnya membeku, matanya tak lepas dari
seorang pria yang berdiri di dekat pintu masuk.
Gadis itu tersenyum. Ia bahagia karena menyadari bahwa pria
itu benar-benar kembali.
Pria itu berjalan mendekat.
Gadis itu masih mengumpulkan kesadarannya, bahwa ia tidak
bermimpi. Ya! Kini ia merasa menang. Lihat, teman-temannya berkata bahwa pria
itu telah tiada, namun? Buktinya kini gadis itu melihatnya kembali.
Ia kemudian menatap secangkir cappuchino dan sepiring
panekuk yang sejak tadi belum tersentuh sama sekali. Kemudian tersenyum.
Laki-laki itu semakin mendekat, dan kini sudah berada di
tempat di mana gadis bersweater biru duduk.
“Rin,” panggilnya.
Namun apa yang dilihatnya kini berubah seperti mimpi buruk.
Gadis itu tersentak, ketika menyadari bahwa pria yang
dilihatnya kini bukanlah pria yang di lihatnya di pintu masuk. Ia terdiam
sesaat, hingga linangan seperti kristal yang menggenang di pelupuk matanya
akhirnya jatuh perlahan. Ia tergugu, bahunya terguncang hebat.
“Senja. Kamu Senja kan?” gadis itu masih menatap pria yang
berdiri tanpa ekspresi itu. Ia tahu jawabannya, namun telinganya seakan menolak
untuk mendengar jawaban dari kenyataan yang beberapa hari ini membuatnya hampir
mati.
Namun tidak ada suara yang keluar dari mulut pria itu.
Gadis itu kemudian mengatur nafasnya, “Jawab ya, Senja!”
Airmatanya turun kembali.
Namun tamparan itu sudah mendarat tepat di pipi gadis itu.
“Rin, Senja udah pergi.” Riki bersuara setelah bisa
mengendalikan emosinya, lalu diam, ia hanya ingin gadis itu sadar.
Keduanya diam cukup lama. Hingga hujan tak lagi punya
tanda-tanda untuk turun lebih lama lagi.
“Rin?” panggil Riki.
Gadis itu sudah lebih tenang, airmatanya berhenti seiring
rintikan deras itu tak lagi turun. Matanya kemudian menatap ke luar kaca café,
tersenyum ketika pelangi terlihat indah di atas langit.
“Senja udah pergi kan? Dia udah pergi jauh.” Karin tersenyum
samar. Matanya terpejam sebentar, ia sadar bahwa selama ini ia hanya berusaha
melarikan diri. Semuanya menjadi jelas, pertanyaan-pertanyaan itu telah
terjawab oleh waktu. Tentang ketakutan atas rasa kehilangan. Tentang perpisahan
yang selalu menyakitkan. Hingga ia lupa untuk menghargai bagaimana Tuhan
mempertemukan. Karena selama ini ia terlalu banyak menyangkal.
Namun kini ia tahu, rela menjadi bagian paling indah atas
keduanya.
“Tidak ada yang benar-benar meninggalkanmu. Kita sama-sama
kehilangan Senja. Lihat, masih ada aku dan teman-temanmu yang selalu bersedia
untuk menjadi bahumu. Masih ada Tuhan yang siap mendengarkan ceritamu,
Barangkali, ia sedang mempersiapkan kejutan untukmu. Karena yang pergi, akan
terganti oleh yang datang ataupun kembali,” ucap Riki sambil menatap tetesan
air yang jatuh dari dedaunan.
Karin tersenyum. Tulus. Tangannya kemudian menggapai
secangkir cappuchino yang sudah mendingin.
“Jangan diminum,” ucap Riki sambil menahan tangan Karin.
Gadis itu hanya mengerutkan kening.
“Kayaknya nanti rasanya bakal beda deh, kayak ada
asin-asinnya gitu.” Karin tertawa, sedangkan di dalam hati Riki terbersit rasa
bersyukur.
Riki kemudian tersenyum, “Nah gitu dong senyum. Maaf ya tadi
udah nampar pipi kamu. Ngga sakit kan?”
Karin menggeleng, Matanya kemudian menatap semburat senja
yang muncul di ufuk barat. Senja,
bolehkah aku jatuh lagi dengan orang yang berbeda?
Begitupun Riki, matanya tak lepas dari langit yang perlahan
berubah warna menjadi jingga. Heh
bro, kok bisa sih lo nitipin gitu aja Karin ke gue? Gue bakal jaga dia
baik-baik kok. Semoga lo tenang di sana.
Ketahuilah hal itu. Perpisahan bukanlah akhir. Relakan saja,
yang pergi, yang datang, yang bertahan, hingga yang tersakiti. Tapi tetaplah
membuka hati agar waktu punya jalan untuk kembali menemukan siapa yang siap
untuk mengobati. Jangan terlalu bersedih, jangan melarikan diri hanya karena
ketakutan itu merubah kenyataan menjadi mimpi buruk. Ingatlah alasan mengapa
Tuhan masih memberikan nafas untukmu. Ia selalu ada disisimu, tidak pernah
pergi.
Siapa sangka, ketika kamu putus asa, ternyata Tuhan sedang
mempersiapkan sebuah kejutan untukmu. Siapa sangka, Tuhan akan menghadiahkanmu
seseorang yang lebih berharga.
Jangan berhenti berharap. Meskipun kekecewaan itu selalu
saja menyuruhmu untuk putus asa.

Saya penggemar tulisan2 kamu! Saya ngikuti mulai dr blog caramel macchiato! Tp sempat kehilangan jejak!
ReplyDeleteMakasih banyak yaa ravi andra hehe masih dalam tahap belajar.
ReplyDelete