Sama?


Jika rindu hanya bisa diam, lalu setelahnya bisa apa?
     Diam bukannya tidak ada, cinta yang tak nampak bukan berarti hilang. Ketika jarak mulai merentang, mulai melebarkan jeda, bukankah sebuah kebohongan jika kita mengatakan bahwa semuanya akan sama? Tidak. 
   Seharusnya jarak mendekatkan rindu kita. Namun berbeda jika rindu itu kemudian berubah hanya sebatas kata tanpa makna, rindu yang seharusnya bertemu akhirnya menguap sebelum bertemu di perujungan jalan. Hingga keraguan itu muncul perlahan, kau disana namun rindu yang kau kirimkan sekarang tak lagi sama  rasanya. 
    Disini tak berubah, aku masih berdiri pada lingkar amanku. Masih berdiri pada titik awal saat kau mulai melebarkan langkahmu kemudian menyuruhku menunggu. 
     Awalnya semua berjalan baik baik saja. Masih sama sejak saat terakhir kali bertemu. Ketika rindu masih saling terpaut, hingga tepat ketika saat semuanya kemudian menguap. 
  Rindumu pelan pelan hilang. Hingga pertanyaan pertanyaan itu kemudian muncul satu persatu. 
    Lalu, setelah semuanya berubah apa yang kutunggu dari sebuah ketidakpastian? Rindu mana yang kutunggu dari seorang pengirim yang tak kuketahui lagi keberadaannya? Kemudian, setelah jarak menguapkan rindu dan mengikiskan harapan. Apakah masih ada alasan untuk sebuah cinta? Masih adakah alasan untuk sebuah percaya? Karena jarak pada akhirnya menorehkan luka.
   Jika kau kembali, mungkin kau masih dapat menemuiku pada titik awal kita berpisah saat itu. Namun ketahuilah, akupun tak lagi sama

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan