Posts

Showing posts from April, 2014

Cappuchino Chocolate :)

Image
Hai Mr.Cappuchino… Rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, setelah sekian lama aku bungkam dan memilih diam sambil memperhatikanmu lewat pojok kelas. Aku bahkan selalu ada di belakangmu, di bangku paling pojok belakang kanan, dan tentu saja kau tak pernah menyadari kehadiranku yang selalu mengendap-endap dan tersenyum tanpa sebab ketika melihatmu tertawa bersama teman sebangkumu. Dan sedetik kemudian tanganku bergerak spontan memegang pensil dan menggambar sketsa wajahmu di belakang lembar buku pelajaran yang tengah dijelaskan di depan kelas. Aish... terkadang aku berpikir bagaimana bisa aku menaruh hati pada seseorang sepertimu, bahkan aku tidak pernah bermimpi akan itu. Tiba-tiba kau masuk, dan menetap tanpa permisi. Tidak dengan permisi. Seperti sejenis pencuri yang baik hati, dan aku sebagai korban hanya diam, dan membiarkanmu masuk ke dalam hidup tanpa berniat sedikitpun mengusirmu.  Bolehkah aku bercerita sedikit ? Tentang secangkir Cappuchino panas dengan taburan...

Apa Kabar Teman?

Image
“Apa kabar?”      Tak terasa, sudah 2 bulan aku tak mendengar kabarmu. Apa kau baik-baik saja? Aku merindukanmu, teman. Aku merindukan tawamu, tawa kita. Aku rindu beradu argument denganmu. Aku rindu lelucon-lelucon garing yang kau lontarkan di saat aku sedih. Aku rindu suaramu. Suara tenangmu yang entah mengapa selalu bisa membuatku berhenti menangis.      Kau tahu? Aku banyak menangis akhir-akhir ini. Aku banyak mengeluh. Kalau kau ada disini, kau pasti sudah mengomel memarahiku bukan? Lalu kau memberikanku nasehat-nasehat membosankan yang hampir setiap hari aku dapatkan di sekolah. Aku pura-pura mendengarkanmu, setelah itu kubiarkan menguap tanpa berniat untuk mengindahkan nasehatmu.     Ada begitu banyak masalah yang ingin aku bagi denganmu. Aku egois ya, teman, Maafkan aku, aku tak bisa terus memendamnya. Pundakku sudah terlalu lemah untuk menahan berat beban ini. Aku ingin mencari jalan keluar bersamamu, tersesat bersamamu atau tert...

Aku Suka Hujan. Bagaimana Denganmu?

Image
“Hujan ya?” Kutengadahkan kepalaku menatap langit yang terlihat muram. Butir-butir air hujan mulai jatuh membasahi tubuh ringkih ini. Tak kuat lagi menahan tangis cumulus yang seharusnya menetes. Menusuk-nusuk tanpa kendali. Dingin, tapi aku sudah mati rasa. Sakit. Tidakkah kau pikir hujan terlihat sepertimu? Menyakiti tetapi tak merasa menyakiti. Membiarkan orang kesakitan tanpa pernah berniat untuk menolongnya. Kau tahu tapi tak pernah peduli bukan? Harusnya aku berhenti memperdulikanmu. Berhenti mencari tahu keberadaanmu. Berhenti mencari tahu kabarmu. Dan yang terpenting, berhenti memikirkanmu. Tapi kenyataannya? Untuk berhenti merapalmu dalam doaku pun terasa begitu berat. Dadaku terasa begitu sesak setiap kali menyebut atau bahkan hanya sekedar mendengar namamu. Apa yang salah dengan pendengaranku? Apa yang salah dengan namamu? Kuhela napas panjang, membiarkan paru-paruku dipenuhi kelembapan udara. Aku suka hujan. Aku suka dimana aku bisa menghayal tentangmu, sendiri....