Hujan (Lagi), Dia Hilang Aku Mencari
Aku menatap ke atas langit. Rintikan hujan berjatuhan meluruhkan disetiap sudut sudut kesedihan, memberikan sensasi mengagumkan yang aku rasakan di wajahku. Tetesan itu begitu dingin, tetapi menyejukkan. Suasana tak tergambarkan itu membuatku berputar. Seperti putaran kaset, yang tak pernah berhenti mengulang setiap memori. Karena disanalah aku menyimpan perasaan itu, mengendapkannya dan berusaha agar tak muncul kembali. Menyenangkan. Cipratan kecil itu tercipta, kakiku yang tanpa sadar menari-nari di atas genangan air itu hingga pada akhirnya berhenti, menelentangkan tangan, kemudian berteriak pada langit. “Hai apakabar malaikat langit ? Bisakah kau turun kemudian menemaniku bermain? Rasa ini mengasikkan, kau lihatkan? Betapa berhasilnya aku berbohong pada perasaan sendiri? Ayolah, apakau tidak melihat aku kesepian? Ah maksudku, bukankah kau melihat bahwa ini akan lebih lebih lebih menyenangkan jika kau menemaniku disini? Menemani kebodohanku.” Bibirku...