Dandelion - Tentang Kau dan Perpisahan



Dandelion ini selalu berhasil mengembalikan ingatanku padamu.
Tentang Juni yang hampir tiba,
dan waktu pertemuan kita yang sebentar lagi habis terkikis.
4/5/2015


Juni nanti kita berpisah. Kembali menjadi sunyi, dan melangkah lagi bersama harapan-harapan usang, bersama catatan di lembar akhir berupa ending dari sebuah pertemuan.
Juni nanti kita berpisah. Kembali menapaki jalan sendiri  dan kembali menangisi jarak kita yang semakin lebar. Bersama perjalanan yang hampa aku mengenangmu sendiri. Menguapkan rindu yang semakin hari menjelma menjadi rasa sakit.

Juni nanti kita berpisah. Bersama nyanyian selamat tinggal, aku hanya ingin menjadi airmata. Yang tak pernah berhenti menarasikan kisah-kisah pendek tentang kita. Airmata untuk melunasi rindu yang hanya bisa kuungkapkan lewat aksara. Airmata untuk melunasi rasa yang belum genap, serta rentetan tangis di perjalanan yang telah lalu.

Juni nanti kita berpisah. Aku mengenang namamu sebagai bagian dari doa dan kenangan masa lalu. Bagian dari surat serta rindu yang harus kubuang jauh-jauh, agar jalanku bahagia. Agar akupun tak perlu lagi membuang waktu berhargaku untuk menulis surat yang akan kau kenang sebagai sampah nantinya.

Juni nanti kita berpisah. Kau meninggalkan kenangan-kenangan sepihak. Kisah-kisah abstrak, mimpi-mimpi tak masuk akal. Kau membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Dan Juni mendatang akan menjadi sekarang. Hingga hati akan berbisik pelan, ‘itu artinya kita tak bertemu lagi’.

 Juni nanti kita berpisah. Pada surat ke-32 ini aku hanya ingin melunasi semuanya. Mencoba mengindahkan waktu, dan merelakan atas kepergian kita masing-masing. Mengindahkan tujuan kita atas jalan yang berbeda. Atas segala sesuatu yang tak akan pernah sama. Dan diantara kitapun tak pernah benar-benar saling mengenal. Kita hanya sebatas teman. Senyum, tatapan kecil, dan punggungmu yang menjauh sudah cukup menjadi bagian paling indah dalam ingatanku.

Dan untuk kita yang sebentar berpisah.


Untuk Juni yang sebentar lagi tiba, April yang sebentar lagi habis. Di gerimis malam yang kembali pulang, kita akan menciptakan kisah lagi yang berbeda.

Juni nanti akan tiba. Pasti.
Karena perpisahan memang selalu menyakitkan. Dan aku akan belajar untuk melupakanmu, menciptakan kisah menarik tanpa ada kau disana.

Maaf karena aku terlalu awal mengucapkan selamat tinggal. Karena Juni nanti akan menjadi berat untukku.  Biar semuanya menjadi indah, dan air mata akan habis pada waktunya. Sehingga aku tak perlu menangisi perpisahan kita ketika Juni tiba.  Dan aku tak punya lagi hutang atas perasaan yang sulit terungkapkan. Aku sudah melepaskannya disini. Sehingga ketika kita bertemu lagi, aku harap perasaan ini tak lagi berarti. 
Karena pertemuan kita sama seperti Dandelion, begitu singkat namun punya makna. Selamat mengejar cita-cita, selamat mengarungi perjalanan baru dan terbang bersama angin. 


Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan