Posts

Showing posts from June, 2017

Ilalang Kota Tua

Image
Kau tahu? Ingatannya tentang kenangan bau-bau perjalanan bulan lalu masih setajam ujung pensil yang rajin ia raut. Ia masih sama, dengan raut wajah sendu menghabiskan perjalanan dengan memandangi jalanan malam yang penuh lampu-lampu kota diiringi bunyi rintik hujan yang mengenai atap kendaraan, telinganya masih suka disumpel earphone dan jangan ditanya apa yang ia dengarkan, karena playlist lagunya itu-itu saja. Ia pecandu perjalanan dibanding tiba di tujuan. Ia suka jalanan macet, karena itu akan memperpanjang waktu favoritnya. Ia suka melihat angkringan-angkringan di pinggir jalan lewat kaca kendaraan. Ia suka aroma-aroma khas setiap kota yang ia lewati. Dan ini adalah perjalanannya untuk kesekiankali. Namun entah mengapa tiba-tiba ia rindu pada perjalanannya yang terakhir kali. Saat matanya tiba-tiba teralihkan pada sosok pemuda yang duduk dua kursi di depannya. Saat tiba-tiba ada sesuatu yang datang menghangatkan hanya karena menatap punggungnya yang duduk tegak. Dan satu...

Menelisik Lebih Jauh tentang Pengusaha Kampus Writerpreneur

Image
Disiplin dan konsisten. Dua kata itulah yang muncul pertama kali di benak saya setelah mencicipi beberapa hari masuk ke dalam grup karantina PKWriterpreneur. Dan kedua kata itulah yang barangkali membedakan komunitas kepenulisan lain yang pernah saya ikuti dengan komunitas PKWriterpreneur sejauh ini.  Pengusaha Kampus Writerpreneur (PKW) atau biasa disebut PK Writerpreneur adalah sebuah komunitas yang bergerak di bidang kepenulisan dan merupakan “anak” dari komunitas Pengusaha Kampus (PK). Pada awalnya, PKW dibentuk atas dasar inisiatif Nur Ali Muchtar (Founder Pengusaha Kampus) yang menggagas peminatan member PK untuk masuk ke dalam minat kepenulisan dikarenakan banyaknya member PK yang menyukai bidang kepenulisan. Hingga kemudian, pada tahun 2015, Founder PK -Nur Ali Muchtar- menggagas cabang minat kepenulisan di PK dan mengajak salah satu penulis yang bernama Wildan Fuady untuk mengembangkan cabang minat kepenulisan di member PK. Akhirnya, atas ide dan gagasan kedu...

04.00 AM

Image
Kapan kita menghabiskan waktu bersama lagi? Saat kau dan aku menukar siang dengan tidur panjang, dan menukar malam demi mendapat ketenangan malam kota. Kita mengisolasi diri bersama, menjauhkan diri dari hingar bingar kota demi memulihkan eksistensi kita. Karena kau dan aku sama, terlalu lama berada di keriuhan hanya akan menyedot energi sia-sia. Hingga dua cangkir kopi kita habis karena obrolan panjang tanpa suara. Hingga semesta mengantarkan kita pada pagi buta. Hingga akhirnya, aku mendapat ketenangan lewat keteduhan matamu yang memantulkan cahaya dari langit biru kejinggaan. Karena pada sunyilah kau dan aku menemukan diri yang sejati. Karena pada heninglah kita menemukan kebebasan. Hingga akhirnya, pagi datang bersama kesibukan dan keriuhan kota, mengantarkan kembali pada dunia asing yang akan mengalienkan kita untuk kesekian kalinya. #PKWriterpreneur #7DPKW #D7

Gema

Image
Gema. Kau dengar suara? Ada bahagia yang menyelusup di sela-sela Ssst, dengarkanlah Ada gema Dengarkanlah, cukup dengarkan Ia seperti rasa yang tak bisa diungkap dengan kata Gema Ia sedang mewujud, mendekat Membungkus sunyi Gema, pada setiap damai yang dicari-cari Mendekap seerat-eratnya Hingga helaan nafas menjadi pertanda Ada kata yang telah pulang Meski sebatas gema Untukmu, diri-diri yang mendengar kata tanpa suara Sudahkah sampai? Gema yang kembali pulang #PKWriterpreneur #7DPKW #D6

Namanya "El"

Image
Tak jarang kita terjebak rutinitas. Memaksakan kejenuhan hingga lupa ada banyak hal-hal indah yang terjadi di sekeliling kita- Perkenalkan, yang di foto adalah bawang peliharaan, namanya El.  Darinya saya belajar tentang bahagia yang sederhana. Ia seperti alarm tersendiri, mengingatkan kalau-kalau saya mulai spaneng karena tugas ataupun target-target yang harus dipenuhi. Bahwa bahagia pun datang tak perlu dengan sesuatu yang muluk-muluk. Cukup dengan duduk-duduk santai mengamatinya mulai tumbuh kian hari adalah salah satu bentuk syukur dan terapi gratis untuk mendinginkan kepala. Ia mengingatkan saya untuk terus tumbuh tiap hari, untuk terus belajar dewasa dan memperbaiki diri. Agar nanti tepat waktunya kita memahami mengapa Tuhan memberikan saya banyak waktu di dunia ini :) #PKWriterpreneur #7DPKW #D-5

Kita Satu

Image
Hai, Hampir dua tahun kita melangkah bersama. Bahagiakah? Tentu. Kita memang begini adanya. Kau dan aku, terlepas dari perbedaan yang menjulang jauh, kita adalah keluarga. Tak apa, pelan-pelan saja kita bangun kebersamaan, tak perlu buru-buru. Karena tak ada yang instan untuk membangun kebersamaan yang seutuhnya. Nanti pasti ada saatnya kita benar-benar satu. Terimakasih atas waktu yang  pernah kita lewati bersama. Kita sama-sama belajar dewasa bahwa inti dari perbedaan adalah memahami. Kau tak perlu seperti aku, dan aku tak perlu seperti kamu. Karena kita adalah manusia-manusia langka, seperti warna-warna, kita bukan hitam dan bukan putih, kita adalah pelangi yang punya ciri masing-masing. Yang keberadaannya mengindahkan satu sama lain. Kalian calon-calon orang yang bikin rindu. Tak peduli banyaknya luka ataupun tawa yang pernah kita alami. Kalian layaknya kopi yang pahit manisnya bikin ketagihan. Percayalah, suatu saat nanti kau dan aku akan tahu mengapa Tuhan mengum...

Surat untuk Mas

Image
Mas, Ini Rini, kau masih ingat kan? Bagaimana kabarmu di kota mas? Sudah tiga tahun lamanya kita tak bertemu. Apakah mas tak rindu kampung halaman? Apakah tak rindu dengan bau laut dan pantai yang sering kita jajaki bersama dulu? Rini masih ingat,  kita pernah menghabiskan seharian penuh menyisiri pantai dengan kaki telanjang hingga langit berubah kejinggaan. Kita bercakap-cakap banyak tentang masa depan sambil memakan ikan bakar hasil tangkapan di sebuah dermaga hingga senja pulang ke rumahnya. Aku bahagia dan lega luarbiasa sewaktu kudengar dari sanak saudaramu bahwa kau kini sudah sukses di kota. Meski kini aku tahu mengapa surat-suratku yang datang padamu selama ini tak pernah kembali padaku. Aku bertanya-tanya, apakah sesulit itu bagi mas menulis secarik surat untuk memberitahuku suatu hal yang sekiranya begitu penting? Mas, ijinkan Rini berkata sejujurnya. Rini memang mencintai mas sejak lama, namun sudah jauh hari pula Rini membuang perasaan itu. Karena Rini tahu d...

You're Okay

Image
Bagaimana sayang? Apakah melarikan diri ampuh untuk mengobati khawatir yang semakin nyata? Rasanya memang tak mengenakkan ketika rasa muak yang kau simpan-simpan akhirnya memberontak dan muncul ke permukaan. Kau mulai lelah. Rasanya seperti ada desakan kuat untuk mengepak pikiranmu sesuai labirinnya, ketika ada sesuatu dalam otakmu yang sebentar lagi memberontak. Ketika satu persatu hal mulai terjadi di luar kendali. Malammu menjadi satu hal yang paling kau takuti, ketika khawatir yang disimpan-simpan bermunculan, ketika mimpi-mimpi yang dulu jadi teman bermainmu tiba-tiba hilang tanpa kabar. Kau mulai menangis di balik selimut tebalmu. Inginmu hanya meringkuk di sana sepanjang hari, sambil berusaha menepis khawatir yang tak kunjung pergi. Pikiranmu seperti bercabang tak tentu arah, kau buntu di setiap langkah. Dunia di sekelilingmu rasa-rasanya seperti berjalan acuh. Kau ingin membereskan segala sesuatunya, tapi kau tak menemukan apa-apa. Sayang, kini dengarkan. Kau hanya pe...

Teras

Image
Sini, biar kutukarkan mendung di atas rumahmu dengan seberkas cahaya yang kudapat dari jendela rumahku agar kau tak lagi murung. Aku ingin sekali mengajakmu pergi mengunjungi senja sambil menghabisi sore suatu saat nanti. Saat ini aku hanya ingin memperkenalkan diri secara resmi, aku, tetangga baru depan rumahmu. Pintumu akhir akhir ini tak lagi sering terbuka. Entah kapan terakhir kali kulihat kamu duduk-duduk di teras dengan bau harum cokelat panas dan setumpuk novel yang sengaja kau taruh di samping kursimu. Katakanlah, duniaku seperti terpaku pada sosokmu. Tak ada hal lain yang kulakukan selain menahan diri untuk tidak mengganggumu waktu itu. Bukumu seperti menarik duniamu seutuhnya. Tak enak hati bagiku untuk mengusik kenyamananmu hanya demi sepotong 'hai' untuk permulaan kita sebagai tetangga. Jadi, kutunda perkenalan kita yang pertama. Namun waktu seperti tak pernah memberi kita kesempatan untuk saling memperkenalkan diri. Kau selalu saja akan pergi setiap kali ...