Teras
Sini, biar kutukarkan mendung di atas rumahmu dengan seberkas cahaya yang kudapat dari jendela rumahku agar kau tak lagi murung. Aku ingin sekali mengajakmu pergi mengunjungi senja sambil menghabisi sore suatu saat nanti. Saat ini aku hanya ingin memperkenalkan diri secara resmi, aku, tetangga baru depan rumahmu.
Pintumu akhir akhir ini tak lagi sering terbuka. Entah kapan terakhir kali kulihat kamu duduk-duduk di teras dengan bau harum cokelat panas dan setumpuk novel yang sengaja kau taruh di samping kursimu. Katakanlah, duniaku seperti terpaku pada sosokmu.
Tak ada hal lain yang kulakukan selain menahan diri untuk tidak mengganggumu waktu itu. Bukumu seperti menarik duniamu seutuhnya. Tak enak hati bagiku untuk mengusik kenyamananmu hanya demi sepotong 'hai' untuk permulaan kita sebagai tetangga. Jadi, kutunda perkenalan kita yang pertama.
Namun waktu seperti tak pernah memberi kita kesempatan untuk saling memperkenalkan diri. Kau selalu saja akan pergi setiap kali aku berniat melangkahkan kaki.
Lambat laun aku tak lagi sering menciumi bau harum cokelat dari teras rumahmu, tak ada lagi pemandangan baju dan celana kolor kebesaran yang biasa kau pakai untuk duduk menumpas waktu.
Kau seperti kehilangan bahagiamu. Entah mengapa kini yang tergambar dari rautmu hanyalah murung. Pagimu selalu tergesa layaknya orang yang banyak mengkhawatirkan sesuatu.
Tak ada maksud bagiku untuk apa-apa. Hanya saja, entah mengapa ada desakan kuat dari dalam diriku untuk mengajakmu melarikan diri. Menghabisi murung dan khawatir agar kau tak lupa untuk bahagia. Seperti saat kau menemukan semestamu di secangkir coklat panas dan setumpuk novel.
Dan lagi,
Aku cuma ingin bilang. Entah mengapa rinduku tumbuh seperti lumut di tembok pagar rumahmu yang kian hari semakin menebal. Kuharap, esok aku melihatmu lagi di kursi teras rumahmu.
#PKWriterpreneur
#7DPKW
#DAY1

Comments
Post a Comment