Surat untuk Mas
Mas,
Ini Rini, kau masih ingat kan?
Bagaimana kabarmu di kota mas? Sudah tiga tahun lamanya kita tak bertemu. Apakah mas tak rindu kampung halaman? Apakah tak rindu dengan bau laut dan pantai yang sering kita jajaki bersama dulu? Rini masih ingat, kita pernah menghabiskan seharian penuh menyisiri pantai dengan kaki telanjang hingga langit berubah kejinggaan. Kita bercakap-cakap banyak tentang masa depan sambil memakan ikan bakar hasil tangkapan di sebuah dermaga hingga senja pulang ke rumahnya.
Aku bahagia dan lega luarbiasa sewaktu kudengar dari sanak saudaramu bahwa kau kini sudah sukses di kota. Meski kini aku tahu mengapa surat-suratku yang datang padamu selama ini tak pernah kembali padaku. Aku bertanya-tanya, apakah sesulit itu bagi mas menulis secarik surat untuk memberitahuku suatu hal yang sekiranya begitu penting?
Mas, ijinkan Rini berkata sejujurnya. Rini memang mencintai mas sejak lama, namun sudah jauh hari pula Rini membuang perasaan itu. Karena Rini tahu diri bahwa mas memang pantas mendapatkan yang lebih. Aku tak kurangnya hanya gadis pelengkap masa lalu mas di sebuah pulau kecil yang terkurung laut. Aku tak lebih hanyalah seorang gadis desa yang begitu menyukai pasir-pasir di pesisir pantai.
Mas, aku pernah bilang padamu bahwa aku akan bahagia jika melihat mas bahagia. Pastilah mas akan bertemu gadis-gadis cantik di kota, pastilah mas akan jatuh hati pada salah satu dari mereka.Tak apa mas menikah dengan siapa.
Namun mas, entah mengapa ada luka di dada yang rasanya begitu sakit. Rini pikir selama ini Rinilah orang terdekat mas, tumbuh bersama layaknya saudara. Tapi mengapa hanya Rini yang menjadi orang terakhir yang tahu perilah pernikahan mas? Bahkan yang paling mengecewakan, kabar itu kudapat dari pedagang pasar ikan.
Aku hanya malu mas. Aku mungkin telah menyakiti hati istrimu dengan mengirimkan surat-surat sampah ini. Seharusnya kukirim kado bingkisan untuk keluarga barumu. Meski sekarang, aku tak bisa mengucapkan selamat padamu dengan tulus dan bahagia.
Aku masih baik-baik saja. Aku tak pernah menyesal menghabiskan waktu di sebuah pulau kecil yang kini jauh dari kotamu. Karena pernah bertemu denganmu adalah kado terbesarku. Karena di sinilah rumahmu sebenarnya. Meski pada akhirnya kau selalu lupa pulang.
Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa ini surat terakhirku. Aku hanya ingin memberitahu bahwa kampung halamanmu masih sama seperti dulu. Sebagaimana senja yang kehadirannya tak pernah alpa. Meski kini entah mengapa rasanya semakin hampa.
Salam rindu
Dari sebuah tempat terakhir kali Rini mengantar mas pergi.
#PKWriterpreneur
#7DPKW
#DAY3

Comments
Post a Comment