Semoga Kita Bertemu Lagi :)


Gadis itu mengadah, menatap muram gumpalan kapas abu-abu yang menggantung dilangit. Tangannya bermain kecil memeluk secangkir cappuchino, yang mulai mendingin. Bahkan, ia belum meminumnya sama sekali.
Mata birunya menunduk, beralih menatap secangkir coklat yang tergeletak begitu saja di sampingnya. Angin sore membuatnya segera mengabaikan kesunyian itu, tangan kecilnya yang lembut bergerak membenarkan syal merah yang terkalung manis di lehernya.
“Mengapa aku bodoh, mana mungkin dia datang, untuk mengucapkan perpisahan misalnya,” gumamnya tak ada ekspresi apapun, hanya bibir merahnya yang kemudian mengerucut membentuk penyesalan atau mungkin sebuah pengharapan yang tak mungkin ada.
Ia tahu hujan sebentar lagi turun, dan angin akan segera mengusirnya pergi. “Tempat ini rasanya tak menginginkan aku di sini,” ucapnya lagi.
Tangannya bergerak-gerak kecil, mencari di setiap sudut tas ransel kesayangannya. Sebuah buku lusuh dan pena yang sebentar lagi akan habis tintanya. Ah tidak papa, inikan tulisan terakhir untuknya, pikir gadis itu.
Rintik hujan sedikit demi sedikit jatuh, meninggalkan jejak permukaan basah di atas kertas lusuh dan pena lama yang sedang ia tulis. Ungkapan hatinya yang kadang kekanak-kanakkan, ungkapan pikirannya yang biasanya tak logis. Ia menulisnya, bahkan tanpa memikirkan panjang lebar, ia terlalu polos.
Penanya tak lagi mengeluarkan tinta hitam. Kertas itu tak lagi putih, bersamaan dengan akhir dari pengungkapan isi hatinya. Airmatanya jatuh, gumpalan yang sejak tadi menggantung hingga pada akhirnya menetes. Kali ini entah mengapa sulit sekali untuk menahan  genangan air itu agar tak jatuh, sesulit ia menerima kenyataan.
Gadis itu menyelinapkan buku kecilnya ditengah-tengah cappuchino dan secangkir chocolate yang  sudah tercampur dengan gerimis, atau bahkan tercampur dengan airmatanya sendiri. Ditutupnya buku itu dengan sehelai daun kering, untuk melindunginya dari air hujan. Tak peduli lelaki itu akan datang atau tidak. 
Gadis itu menutup matanya kemudian menghirup nafas dalam – dalam. Ia membukanya kembali, dan rintikan itu sekejap berhenti. Ia mengadah.
“Apa kita tidak bisa mengulurnya lebih lama lagi ? satu jam mungkin ?” tanya gadis itu, kemudian menghapus airmatanya yang sudah tercampur dengan gerimis.
“Tidak, ayahmu sudah menunggu, dan tidak ada waktu untuk menundanya lagi.” 
Perempuan pemegang payung biru itu kemudian membantunya bangkit,  menyelimuti punggungnya yang basah dengan blazer merah kesayangan gadis itu.  Keduanya berjalan beriringan, menuju mobil berwarna merah yang sudah terparkir di jalanan tak jauh dari kursi putih dimana gadis itu duduk seorang diri.
“Selamat tinggal.”
Kemudian hujan benar-benar turun deras, seiring airmatanya yang menetes perlahan.
===========
Lelaki dengan jaket hitam itu berlari, sekujur tubuhnya basah diguyur hujan. Kini ia tertunduk sambil menggigil kedinginan. Bibirnya bergetar. Tangannya berpijak pada kursi putih yang tak ada siapa-siapa disana. Hanya dirinya, hanya hujan, hanya angin, atau bahkan ilalang yang sama-sama menunduk kedinginan.
Bahunya bergetar, matanya perih. Ia tak menemukan gadis itu di sana. Hanya secangkir cappuchino dan chocolate yang sudah tercampur air hujan. Menandakan bahwa gadis itu telah menunggunya cukup lama. Ia benar-benar menyesal sekarang.
Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal, ia begitu pengecut.
Lelaki itu duduk di sana. Sama, seperti tempat dimana gadis itu menunggunya seorang diri. Tangannya yang sudah membiru itu kemudian mengambil secangkir chocolate & cappuchino, ia menatapnya dalam. Memandang keduanya penuh arti.
Ia tertegun, berusaha menelan ludah yang membuat tenggorokannya tiba-tiba kering. Betapa terkejutnya ketika dibalik daun kering itu ada sebuah buku yang sangat familiar untuknya.
“Kau tahu ? aku menuliskan semua tentangmu di buku ini. Jadi jangan khawatir kalau aku akan melupakanmu. Tentu saja, itu sangat sulit, bahkan jika aku pergi dari sisimu sekalipun. Percayalah padaku.”
Ingatan-ingatan itu membuka kembali. Membuatnya muncul ke atas permukaan, seperti perasaan yang dipendam kemudian muncul kembali. Dan sekarang, buku yang selalu gadis itu sebut ada ditangannya. Ia tak menyangka bahwa gadis itu benar-benar mencintainya.
Bukan karena ia tak punya perasaan sama, lelaki itu hanya ingin membiarkan gadis itu meraih mimpinya. Bukan meraih keegoisannya yang tak tahu diri. Mereka sama-sama mencintai, Tuhan tahu. Dan jika mereka benar-benar diijinkan, suatu saat nanti pasti akan bertemu.

25/08/13
Untukmu seorang lelaki pencinta chocolate.
Aku tahu kamu tak akan datang, meskipun aku menunggunya satu abad sekalipun. Bahkan jika aku mati disini karena menunggumu. Kamu mungkin tidak akan menangis jika aku benar-benar pergi.  
Mengapa kamu tak datang? Kenapa? Apa kamu sudah melupakanku? Semudah itu? Bisakah kamu mengajariku caranya melupakan dan membuatku tak mengingatmu lagi ? Ajarkan aku, karena aku bodoh. Ayolah,… bahkan demi itu aku sudah membuatkanmu secangkir chocolate special untukmu, dan cappuchino kesukaanku. Meskipun rasanya sedikit berbeda. Aku bahkan sudah menunggumu lama. Ini menyebalkan, aku bahkan tak bisa meminum cappuchino itu tanpa kamu di sini.
Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Semenjak kamu pergi tanpa ada kabar, dan sejak tadi ketika aku menyuruhmu untuk datang ke taman kesukaanmu. Kamu tak ada disini. Aku tak tahu kamu dimana, dan aku harap semuanya baik-baik saja.
Aku hanya ingin memberitahumu bahwa sebentar lagi aku akan pergi untuk waktu yang lama. Ke paris, ke tempat dimana aku selalu menaruh angan-anganku disana. Tapi, ini benar-benar aneh. Aku tak ingin pergi, ketika ayahku sudah memutuskan bahwa nanti malam aku harus segera meninggalkan semuanya segera. Tapi aku berjanji, aku akan kembali setelah menjadi pianis hebat dan menunjukannya padamu.
Meskipun kita bertemu disini tak cukup lama. Tapi aku berharap, kamu tetap sama menjadi orang yang pertama kali kutemui. Laki-laki yang kucintai.
Gerimis, aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Tinta pulpenku akan segera habis.
Karena aku tahu kamu sangat sibuk dengan lukisan-lukisanmu, karena itu kamu tak perlu datang. Toh, sebentar lagi aku akan pergi. Meskipun aku harap kamu tak semudah itu melupakanku.
Aku mencintaimu, maafkan aku karena terlambat memberitahumu.
Selamat tinggal.
Semoga kamu membacanya, dan aku mohon jangan tertawa. Buku ini aku titip sebentar, sebagai tanda bahwa aku menitipkan hatiku padamu. Aku tak akan melupakanmu.



Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan