Hujan (Lagi), Dia Hilang Aku Mencari




Aku menatap ke atas langit. Rintikan hujan berjatuhan meluruhkan disetiap sudut sudut kesedihan, memberikan sensasi mengagumkan yang aku rasakan di wajahku. Tetesan itu begitu dingin, tetapi menyejukkan. Suasana tak tergambarkan itu membuatku berputar. Seperti putaran kaset, yang tak pernah berhenti mengulang setiap memori. Karena disanalah aku menyimpan perasaan itu, mengendapkannya dan berusaha agar tak muncul kembali.
Menyenangkan. Cipratan kecil itu tercipta, kakiku yang tanpa sadar menari-nari di atas genangan air itu hingga pada akhirnya berhenti, menelentangkan tangan, kemudian berteriak pada langit.
“Hai apakabar malaikat langit ? Bisakah kau turun kemudian menemaniku bermain? Rasa ini mengasikkan, kau lihatkan? Betapa berhasilnya aku berbohong pada perasaan sendiri? Ayolah, apakau tidak melihat aku kesepian? Ah maksudku, bukankah kau melihat bahwa ini akan lebih lebih lebih menyenangkan jika kau  menemaniku disini? Menemani kebodohanku.”
Bibirku tanpa sadar tersenyum, airmata itu turun kembali Kerinduan yang menyiksaku kembali, seperti 1 tahun yang lalu. Seperti dulu, dan kini ketika semuanya telah berakhir.

Aku menunduk kembali, memandang disetiap tetesan air yang jatuh. Seperti lengkungan perak, tetapi tak bisa mengkristal. Seperti airmata yang tidak bisa dengan mudahnya membeku.
Aku adalah gadis pecinta hujan. Rintikan yang entah mengapa, dan entah karena apa aku kagumi. Tanpa alasan jelas. Karena jika aku mencintai hujan dengan alasan, ketika alasan itu hilang akankah rasa cintaku pada hujan masih ada ?
Ada jiwa disana, disetiap titik titik air yang jatuh satu-satu hingga pada akhirnya menyatu kembali, mengalir ke tempat yang seharusnya ditempati.

Aku sangat menyukai hujan. Analogi, cerita, kisah, semua hal yang menyangkut tentang hujan. Tetesannya, aroma tanah sehabis hujan, semuanya mengingatkanku pada seseorang yang menghilang itu. Bahkan hujan telah berhasil untuk mengatasi rindu, mengingat kenangan, atau bahkan imajinasi-imajinasi gila yang tiba-tiba saja keluar dan membuatku terjebak begitu saja  di sana.  
Tapi entah mengapa, semua tidak mempan untuk kali ini. Rindu ini rasanya sudah menumpuk terlalu tinggi.
Tentang petikan gitar yang mengalun lembut di bawah hujan, tentang tangan yang tak pernah absen mengusap rambutku, tentang senyum yang setiap kali membuatku tenang.
Bahkan hal itu sudah menghilang 1 tahun yang lalu, seperti seseorang yang sama-sama menghilang, kemudian meninggalkanku sendiri di bawah hujan.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan