Sebelum Detik Berdetak-


Jiwa yang lusuh ini masih ada. Kusut menunduk di pojok sendiri, di dalam dunia yang ia ciptakan, tanpa membiarkan seorangpun masuk, mengobrak abrik semua ketenangannya, kemudian kembali hancur. Seperti jiwanya dulu sebelum jiwanya yang sekarang ia kenal.
Didalam jiwa itu tak ada kata, rohnya diam. Kepercayaannya hilang pada sesama, ia tak mengenal lagi manusia. Padahal dirinya masih menjadi manusia, ia belum mati. Tapi ia merasa tak ada, jasadnya masih berdiri tegak tetapi ia tak bisa bergerak. Tenaganya untuk hidup seakan menguap, hanya tertinggal jiwa yang tak tahu lagi akan bagaimana.
Tak tahu juga akan kemana, memangnya ia punya tujuan ? Bahkan semua persepsinya telah terkubur, ia menguburnya sendiri. Kemudian dikunci, tanpa sekalipun berusaha untuk menggali dan memperbaikinya lagi.
Kesendiriannya itu semakin membengkak, terpecah, kemudian mengacaukan semuanya. Jiwa yang seperti benang-benang halus itu kemudian meruwet, terikat tak teratur, tak tersusun lagi. Seperti puzzle yang kemudian bagian-bagiannya hilang, hingga yang tersisa hanya satu potongan, bahkan potongan itupun tak tergambar lagi.
Hanya satu alasan jiwa itu untuk hidup, menghabiskan detik sebelum detik yang baru berdetak. Karena hanya detik ia tak mau lupa. Dan jiwa itu ingin menyerahkan detik yang baru pada jiwa-jiwa yang baru. Bukan seperti jiwanya yang tak punya makna, dan tujuan.
Alasan itu sederhana. Meskipun ia tak tahu lagi, bagaimana caranya berdiri, menyapa orang lain, melihat dunia bahkan. Ia hanya ingin lupa, kemudian pergi tanpa jejak yang tertinggal.
Seperti angin yang pergi, kemudian hembusannya menghilang. Sapuannya terasa tapi sedetik kemudian pun tak dipedulikan. Tak tahu lagi entah karena hidup ataupun apa, ia menjadi begini. Ia hanya ingin pergi.
Kemudian, orang-orang yang dulu membencinya tak terbebani lagi. Dan orang-orang yang mencintainya tak perlu mencurahkan kepeduliannya lagi. Ia hanya ingin menjadi angin. Yang kehadirannya tak perlu dianggap ada.
Sehingga jiwanya bisa terbang bebas, meluncur, dan bergerak kemanapun ia mau. Bukan pada ruangan yang berdebu, yang mengurung harinya dan mimpi-mimpi yang dulu dilambungkan tinggi.
Jiwa penikmat sepi, ia masih nyaman dalam sendiri yang perlahan mencekik hingga hatinya pelan-pelan dingin dan mati rasa. Meskipun sewengi saja, jiwa itu masih berharap bisa merasakan detik yang bergerak sebelum detik yang lainnya kembali berdetak. Seandainya bisa, ia ingin memutar waktu. Dan mengembalikan detik yang sempat dihapuskannya dulu. Dan bersapa kembali dengan dunia, orang-orang, dan cinta. Yang kini disudahinya dengan lupa.
Hingga analogi tentang jiwa yang menghilang dan mengurung dirinya itupun tak tahu bagaimana akhirnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan