Cinta Sendiri ? Menyakitkan ?


Sebelumnya aku hanya seorang pengagum kecil, yang menjadikannya sebagai idola. Selalu menatapnya dari sini, dari kejauhan. Dan itu cukup berhasil membuat jantungku berdetak tak karuan. Lucu. Terkadang juga aku memanggil lirih namanya dan langsung melompat kegirangan bila dia tak sengaja menoleh ke arahku. Meskipun ku tau itu hanya suatu kebetulan yang bisa disebut keberuntungan. Mungkin Dewi Fortuna sedang ada dipihakku saat itu.
Lama-lama perasaan ini tumbuh subur meskipun tak pernah aku beri pupuk. Aku membiarkannya mengalir, melaju, mengikuti arus sungai dengan tenang. Sampai tiba saatnya titik jenuh muncul mengacaukan ketenanganku. Aku jenuh melihatnya dari kejauhan. Aku jenuh menyebut namanya lirih. Aku jenuh mengaguminya diam-diam. Aku jenuh. Hatiku mulai memberontak, membabi buta melawan logika yang ada. Tapi aku bisa apa, Tuhan?
Aku memang terlalu melebih-lebihkan keadaan. Berharap terlalu besar dan akhirnya sakit terlalu dalam. Memang benar, mencintai  akan indah bila dibumbui kata ‘saling’ bukan? Saling mencintai saling menyayangi saling menyukai saling memahami. Sehingga tak ada yang berjuang sendirian, sakit sendirian, dan mencintai sendirian. Bertepuk sebelah tangan menyakitkan, kan?
---

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan