Tak Ingat Lagi~
-Senja… jangan ingatkan aku lagi
tentangnya dalam memoriku.
Aku
bosan, aku tak ingin lagi perasaan ini ada. Terus menerus mengendap. Tak bisakah angin membiarkan rasa ini menguap? Perlahan kemudian pergi hingga jejaknya tak ada lagi ?
Ah…
siapapun itu. Rasa ini menyakitkan, menahan diri, memendam rindu, memendam
perasaan sendiri. Menangis dalam hati hingga yang tersisa kemudian hanyalah
serpihan-serpihan yang telah rapuh. Hanya kabut yang kemudian menghalangi
setiap sudut dalam hati. Sampai sampai aku sendiri tak sadar, setetes air yang
dulu kering, kini mencuat perlahan, menciptakan sedikit celah untuk mengalir.
Membuat luka yang baru saja mongering, terbuka kembali. Perih.
Bisakah
? Rasa ini begitu menyesakkan. Aku ingin lupa, aku tak ingin mengingatnya. Cinta
ini ada untuknya. Tapi, sebagai seorang pengagum, apakah aku boleh menentang
semua yang ada ? Mengungkapkan perasaan-misalnya ? Memangnya aku siapa ?
Ya… aku bukan siapa-siapa. Dia juga bukan
siapa-siapa. Bukan milikku. Bukan pemilik cappuchino kesayanganku. Hanya orang
asing yang baru saja datang kemudian merusak semua persepsiku.
Cukup
lama, dan, masih sama, aku masih menjadi adik kelasmu, menjadi seseorang
yang-tanpa-kau-tahu masih menyimpan rasa yang bodohnya tak pernah berubah.
Meskipun satu kali…
Dua kali…
Tiga kali…
Puluhan
kali barangkali aku berusaha untuk mengabaikan dan melupakan perasaanku sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi… menghilangkan memorimu saja begitu susah bagiku.
Seberapa banyaknya lagi rasa ini tak perlu ditanya. Karena sampai kapanpun kamupun
tak akan pernah tahu tentang perasaanku padamu beberapa tahun belakangan ini.
Seharusnya
aku sadar, bahwa cinta memang tak selamanya ada. Bahwa cinta itu seperti Cappuchino,
rasa manis yang tersembunyi dan membuat kita selalu ingin mencicipinya dan
mencari di antara pahitnya caffein yang mendominasi rasa. Dan aku paham, bahwa
aku harus mengakhiri perasaan ini padamu. Rasa yang takakan pernah bisa
diungkapkan, meskipun aku berusaha untuk mengungkapkan. Karena kamu sendiri bukan
perasa. Perasaan ini sudah selesai, maafkan aku.
Karena aku juga pantas untuk bahagia.
Karena aku juga pantas untuk bahagia.
.jpg)
Comments
Post a Comment