Bahagia Itu Sederhana :)


Tak selamanya liburan itu menyenangkan. Begitu membosankan malah. Tanpa novel, tanpa komik, tanpa coklat, dan em, tanpa kamu. Alasan terakhir terdengar lucu ya. Menggelitik. Tapi begitulah kenyataannya. Aku tak semunafik para koruptor yang mengumbar janji di tv itu kan?
Jemariku tak berhenti menari-nari diatas keyboard. Merangkai kata-kata yang tak bisa dibilang indah namun cukup menggetarkan hati. Dan kamu tau? Semua katanya tertuju untukmu, sayang. Ini terjadi everytime dan yang sangat menyebalkan lagi aku membiarkannya muncul everywhere. Khayalan tentangmu. Memori indah tentangmu yang tak pernah bosan kuingat.
          Kuambil hp butut yang setia dan selalu ada disampingku. Kuketikkan sedikit pesan untukmu. Kutuliskan nomormu yang sudah kuhapal diluar kepala di kolom penerima. Tak berapa lama kemudian, hpku bergetar. Bodohnya, aku tak bisa menahan senyumku yang mulai mengembang, pipiku yang mulai memerah, jantungku yang seakan melompat keluar raga, melihat namamu muncul. Terlalu hiperbolis memang. Tapi itulah kenyataannya. Entah mengapa kamu selalu bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa tanpa sebab. Ah, memalukan.
          Kupejamkan mataku sejenak. Membiarkan sesuatu yang telah lama berlalu muncul kembali. Aku yang dulu, yang selalu sombong dengan benteng pertahanan yang kupunya. Yang begitu yakin benteng pertahanan yang kubuat dengan susah payah itu, tak kan pernah roboh. Aku yakin aku tak bisa jatuh cinta lagi setelah ini. Atau lebih tepatnya aku tak ingin jatuh, lagi, ke siapapun itu. Menyakitkan. Mengingatnya saja berhasil membuatku merasakan mimpi buruk setiap malam. Lalu, kamu-tanpa-permisi-tanpa-izin berhasil merebut perhatianku. Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa ini terjadi, bentengku sudah terlalu kokoh untuk bisa kamu hancurkan bukan? Tapi kenyataan memang selalu berkebalikan dengan imajinasi. Bentengku dengan mudahnya, kau hancurkan. Menyusup masuk, mencuri hati tanpa seizinku. Dari awal kau memang seorang pencuri, bukan? Mencuri perhatianku, mencuri waktuku untuk memikirkanmu, mencuri kepedulianku, dan mencuri cintaku meski belum sepenuhnya kau ambil.
          Terimakasih. Terimakasih sudah melukiskan pelangi dihariku. Terimakasih sudah menjadi bagian yang indah dalam hidupku. Terimakasih sudah menjadi teman-sahabat-pacar-kakak terbaik untukku. Terimakasih sudah mengajariku banyak hal. Kesabaran, ketulusan, kesetiaan, keikhlasan, dan kebahagiaan.

-Karena sebenarnya bahagia itu sederhana. Melihat senyum manismu, misalnya-

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan