Cappuchino Chocolate :)


Hai Mr.Cappuchino…
Rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, setelah sekian lama aku bungkam dan memilih diam sambil memperhatikanmu lewat pojok kelas. Aku bahkan selalu ada di belakangmu, di bangku paling pojok belakang kanan, dan tentu saja kau tak pernah menyadari kehadiranku yang selalu mengendap-endap dan tersenyum tanpa sebab ketika melihatmu tertawa bersama teman sebangkumu. Dan sedetik kemudian tanganku bergerak spontan memegang pensil dan menggambar sketsa wajahmu di belakang lembar buku pelajaran yang tengah dijelaskan di depan kelas.
Aish... terkadang aku berpikir bagaimana bisa aku menaruh hati pada seseorang sepertimu, bahkan aku tidak pernah bermimpi akan itu. Tiba-tiba kau masuk, dan menetap tanpa permisi. Tidak dengan permisi. Seperti sejenis pencuri yang baik hati, dan aku sebagai korban hanya diam, dan membiarkanmu masuk ke dalam hidup tanpa berniat sedikitpun mengusirmu.
 Bolehkah aku bercerita sedikit ? Tentang secangkir Cappuchino panas dengan taburan coklat berbentuk hati. Aku pikir akan mengagumkan. Kau tahu? Aku adalah pengagum cappuchino sejati. Seorang gadis penikmat coffee.
Dan semua itu berbanding terbalik denganmu.. Tentang coklat sebagai minuman favoritmu. Ahh… aku rasa ini langka, bukankah seharusnya kau penikmat cappuchino dan aku sebagai pengagum coklat ?
Mr Cappuchino… suatu hari nanti aku ingin mengajakmu ke sebuah kedai café kesayanganku, dan aku ingin menunjukan padamu bahwa ada banyak sekali jenis minuman coklat dan cappuchino. Kemudian kita saling menatap senja, sambil menunggu pesanan kita datang. Dan kita saling berbicara dalam diam, dan bisu seperti biasa.
Aku ingin mengenalkan cappuchino padamu. Dan aku tahu, kau akan menolaknya dengan tersenyum, dan mengatakan bahwa kamu bukan penikmat kopi, karena aku tahu kau tak suka dengan aroma caffeine yang pahit pada cappuchino. Tapi, bisakah kau mencicipinya sedikit saja? Karena hidup tidak selamanya manis, karena hidup tak akan indah tanpa banyak rasa. Dan aku ingin mengenalkan rasa pahit itu padamu. B
Kau laki-laki yang sangat sopan. Kau tak enak hati padaku dan mencicipnya sedikit. Setelah itu kau akan mengatakan dengan sedikit formal, “Mmm… cappuchino tak cukup buruk untukku.” Dan aku hanya tersenyum, keformalitasanmu membuat siapapun-termasuk-aku, selalu nyaman di dekatmu.
Tapi tujuanku bukan itu. Aku telah membagi pahitku padamu, membagi rasa yang sudah begitu lama aku kagumi. Cappuchino, kita berdua sudah saling mengerti bagaimana rasanya pahit itu sendiri. Dan kemudian, kita akan mengakhirinya dengan secangkir chocolate panas yang sudah mulai mendingin. Sedikit menguap karena dibiarkan tak tersentuh sedikitpun, tapi tenanglah aku tak bermaksud untuk memisahkan chocolate itu pada pengagum sejatinya.
Karena hidup juga tidak selalu pahit. Bukankah ending ini boleh semanis chocolate yang baru saja aku pesankan special untukmu ? Dua rasa yang saling bertolak belakang, tetapi saling melengkapi. Aku tahu, kau akan tersenyum kembali karena chocolate kesukaanmu itu telah mampu menghilangkan rasa caffeine yang pahit pada lidahmu. Dan kita akan tertawa bersama, karena sensasi perpaduan dua rasa itu cukup mengagumkan.
Tapi nyatanya, cappuchino adalah hidupku. Dan aku sendiri tidak tahu kapan aku bisa bertemu dengan chocolate yang menghadirkan akhir manis dari pahit yang berkepanjangan. Mungkin aku harus segera menghentikan khayalan gila ini. Sebelum  aku sendiri yang mengakhiri kisah abstrak yang menggantung. Aku harus berhenti bermimpi bahwa cappuchinoku akan selalu terjejer dengan chocolate manis milikmu.
Mungkin cappuchino memang yang terbaik untukku. Karena chocolate tak selamanya ada pada hidupku. Cappuchino & Chocolate, seharusnya keduanya bisa melengkapi. Tapi rasanya… .


*untukmu yang selalu merasakan manis tanpa tahu bagaimana rasa pahit itu sendiri. 

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan