Apa Kabar Teman?
Tak
terasa, sudah 2 bulan aku tak mendengar kabarmu. Apa kau baik-baik saja? Aku
merindukanmu, teman. Aku merindukan tawamu, tawa kita. Aku rindu beradu
argument denganmu. Aku rindu lelucon-lelucon garing yang kau lontarkan di saat
aku sedih. Aku rindu suaramu. Suara tenangmu yang entah mengapa selalu bisa
membuatku berhenti menangis.
Kau tahu?
Aku banyak menangis akhir-akhir ini. Aku banyak mengeluh. Kalau kau ada disini,
kau pasti sudah mengomel memarahiku bukan? Lalu kau memberikanku nasehat-nasehat
membosankan yang hampir setiap hari aku dapatkan di sekolah. Aku pura-pura
mendengarkanmu, setelah itu kubiarkan menguap tanpa berniat untuk mengindahkan
nasehatmu.
Ada begitu banyak masalah yang ingin aku bagi denganmu. Aku egois ya, teman, Maafkan aku, aku tak bisa terus memendamnya. Pundakku sudah terlalu lemah untuk menahan berat beban ini. Aku ingin mencari jalan keluar bersamamu, tersesat bersamamu atau tertawa lepas menertawai kebodohanku tanpa ada beban. Bisakah? Bisakah kau disini lagi? Disampingku lagi?
Ada begitu banyak masalah yang ingin aku bagi denganmu. Aku egois ya, teman, Maafkan aku, aku tak bisa terus memendamnya. Pundakku sudah terlalu lemah untuk menahan berat beban ini. Aku ingin mencari jalan keluar bersamamu, tersesat bersamamu atau tertawa lepas menertawai kebodohanku tanpa ada beban. Bisakah? Bisakah kau disini lagi? Disampingku lagi?
Kemarilah
kawan, Aku ingin berbagai coklat denganmu. Aku rindu kopi pahit milikmu yang
kau bagi meski terpaksa, denganku.
.jpg)
Comments
Post a Comment