Aku Suka Hujan. Bagaimana Denganmu?
Kutengadahkan
kepalaku menatap langit yang terlihat muram. Butir-butir air hujan mulai jatuh
membasahi tubuh ringkih ini. Tak kuat lagi menahan tangis cumulus yang
seharusnya menetes. Menusuk-nusuk tanpa kendali. Dingin, tapi aku sudah mati
rasa. Sakit. Tidakkah kau pikir hujan terlihat sepertimu? Menyakiti tetapi tak
merasa menyakiti. Membiarkan orang kesakitan tanpa pernah berniat untuk
menolongnya. Kau tahu tapi tak pernah peduli bukan?
Harusnya
aku berhenti memperdulikanmu. Berhenti mencari tahu keberadaanmu. Berhenti
mencari tahu kabarmu. Dan yang terpenting, berhenti memikirkanmu. Tapi
kenyataannya? Untuk berhenti merapalmu dalam doaku pun terasa begitu berat.
Dadaku terasa begitu sesak setiap kali menyebut atau bahkan hanya sekedar
mendengar namamu. Apa yang salah dengan pendengaranku? Apa yang salah dengan
namamu?
Kuhela
napas panjang, membiarkan paru-paruku dipenuhi kelembapan udara. Aku suka
hujan. Aku suka dimana aku bisa menghayal tentangmu, sendiri. Mengingatmu,
mengingat senyummu, mengingat detective style mu yang selalu kupandangi dari
balik jendela kelas. Apa kau sadar? Aku pengagummu. Aku penikmat senyummu ,
meski ku tahu senyum itu bukan kau tujukan untukku. Kau tak pernah melihatku,
seberapapun aku berusaha untuk itu. Sesulit itu kah untukmu menyadari
keberadaanku? Hanya sekedar mengganggapku ada pun kau tak bisa?
Tapi
aku juga benci hujan, Tuan. Aku benci dimana aku merasa begitu lemah. Rapuh.
Tanpa bisa menahan tangisku terjatuh bersama ribuan tetes tangis dari langit.
Apakah langit ikut bersedih? Atau hanya sekedar berempati melihat tubuh rapuh
tak berdaya ini? Hujan juga lah yang membuat kenangan tentangmu muncul
menyeruak keluar. Menyisakan luka yang belum benar-benar kering. Yang tak pernah
kau pedulikan. Yang tak pernah kau coba menyembuhkannya. Ah sudahlah, abaikan
saja. Aku tak membutuhkan kepedulianmu yang pura-pura itu. Lupakan.
“Jadi
bagaimana tuan? Apakah kau juga menyukai hujan? Atau malah sebaliknya?”
.jpg)
Comments
Post a Comment