Ia: Kadang berhenti itu perlu, sebelum kisah menyakitkan itu terulang kembali.


Siapa yang tahu? Ketika rasa yang sudah lama mengering itu tiba-tiba kembali ditumbuhi bunga-bunga dengan berbagai warna? Siapa yang tahu, di balik sangkalannya yang terlalu keras kepala ia telah mengingkari janji pada hatinya? Genap tiga tahun ia mengisolasi hatinya, yang patah berkeping-keping, namun siapa yang tahu jika ia kembali (akan) jatuh untuk ke sekian kalinya?

Pada setiap waktu, ia selalu benci tiba-tiba. Ia selalu benci pada sesuatu  di luar rencananya. Tiba-tiba hujan, tiba-tiba ujian, tiba-tiba jatuh cinta. Yang terakhir itu, percayalah, ia panik setengah mati. Tiba-tiba jatuh cinta? Itu bahkan di luar rencananya, tentu, setelah ia patah hati berulang kali. Katakanlah, ia trauma setengah mati. 

Namun di tengah pendewasaan, ia tahu ada sesuatu yang  berada di luar kontrolnya, ada sesuatu yang selamanya tak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Ia tahu dengan sangat bahwa ia tak selamanya bisa melarikan diri. Seperti tak selamanya ia bisa menahan hati untuk jatuh cinta. Meski benar, ia hampir hilang rasa selama ini. Namun, 3 tahun seharusnya cukup untuk mengobati hati, atau setidaknya memaafkan pada setiap kekesalan atas rasa yang tak terbalas. Rasa yang dulu sekiranya, hampir ia serahkan seutuhnya, dan ia terima seutuhnya, dalam pecahan yang tak terhitung jumlahnya. Sempurna, untuk keretakan hatinya. 

Ia hanya sedang menutupi keraguannya. Bohong jika ia baik-baik saja, ketika ia terlalu takut kembali jatuh cinta. Tembok hatinya tak kasat mata, sekokoh benteng yang dulu ia buat dengan penuh amarah. Benteng yang ia buat dengan sisa-sisa tangis, sisa-sisa dari akal sehatnya yang menyuruh siaga, mengaktifkan sel-sel untuk meredakan sakit meski tak ada bagian tubuhnya yang terluka. 

Dan tentu, alasan kenapa ia selalu tergagap ketika seseorang bertanya bagaimana perasaan saat jatuh cinta. Bukan, bukan karena ia belum menerima kisahnya dengan besar hati. Ia hanya lupa. Lupa sensasi tersenyum sendiri, lupa bagaimana rasanya rasa syukur dalam hatinya terbit begitu saja hanya karena kehadiran seseorang, lupa betapa hal-hal yang penuh dengan kebetulan begitu dilebih-lebihkan dan diistemawakan. Masih jelas dalam ingatannya, seberapa besar kekagumannya pada sosok lelaki yang berhasil mengacaukan rasionalitasnya. Dulu, tiga tahun lalu, sewaktu rasa dalam hatinya masih semanis gula-gula kapas.

Masa lalu tak akan pernah habis dibicarakan. Manisnya cinta, mengisahkan sebuah pelajaran berharga. Betapa ia tahu bahwa cinta punya banyak warna, punya banyak rasa. Semacam cappuchino yang tak pernah menyembunyikan identitasnya. Pahit. Namun selalu punya banyak pencinta. Mungkin seharusnya, ia jatuh cinta seperti minum kopi. Ketika ia tahu rasanya pahit, ia tetap bahagia, karena manisnya hanya akan terasa ketika sudah mengecap. Manis yang istimewa, manis yang bikin candu, manis yang mendorong kita untuk terus meminumnya sampai habis. Meski pahit, meski pahit.

Mungkin cinta semacam minum kopi. Cinta tak menjaminkan semanis gula-gula kapas. Namun cinta seperti pahit dan manis dalam kopi. Meski kadang, kita tak pernah tahu, jika mungkin kadar kopi terlalu berlebihan dan pahitnya terlalu kentara, atau mungkin kadar gula terlalu berlebihan dan berfikir bahwa mungkin kita bisa terkena diabetes. Siapa yang tahu, jika cinta adalah minum kopi, bukankah terlalu jelas artinya bahwa selama ini kita hanya dihidangkan? 

Ia hanya takut dengan eksistensinya. Ketika ia bahkan tak berani menunjukkan diri yang sebenarnya. Ketika ia takut kehadiran cinta malah mengancam rasa nyamannya. Rasa nyaman yang bahkan tak lagi bisa ia bedakan dengan kekosongan dan kehampaan. Atau mungkin, selama ini ia hanya sedang terjerat dalam kesendiriannya? 

Ia terjaga terlalu lama. Takut pertahanannya dibobol. Takut bentengnya yang dibangun dengan susah payah kemudian hancur karena lengah. Namun, semua hal selalu punya titik batasnya. Ketika kemudian siaganya tak sekuat dulu, ketika tubuhnya melemah dengan sendirinya, ketika lelah mulai melemahkan titik titik pertahanannya.

Ia lupa, bahwa waktu adalah penyembuh paling ampuh. Dan hati, kadang  berada di luar kendali. Hati seperti teka-teki. Bahkan di luar perkiraannya, siapa yang tahu, siapa yang sangka tiba-tiba tanpa aba-aba, ia jatuh cinta pada siapa siapa yang benar-benar di luar dugaannya? Ah seperti biasanya.

Ia sedang panik setengah mati. Setelah terlalu lama, setelah cukup lama, perasaan yang 'lupa' itu hadir tiba-tiba. Perasaan yang membuatnya uring-utingan setengah mati sekaligus perasaan yang membuatnya tergelitik. Perasaan yang entahlah, ia tak bisa menggambarkan lagi. Sudah jelas bukan, apa namanya? Cinta? Oh diamlah, dalam hatinya ia masih menyimpan rasa yang mengganjal untuk satu kata yang terlalu lama tak didengarnya. Atau mungkin ketakutannya yang sesungguhnya adalah mengaku. Mengaku pada perasaannya bahwa ia jatuh cinta.

Namun, bukan, bukan itu alasan kepanikannya.

Sosok itu sama seperti lelaki yang dicintainya tiga tahun lalu. Penuh batas-batas dengannya, penuh dengan perbedaan, penuh dengan sesuatu yang tak bisa disatukan. Dan ia tahu, tanpa menelaah lebih jauh, tanpa memandang lebih dalam. Ia dihadapkan sebuah pilihan.

Mungkinkah ia kembali keras kepala? Kembali pura-pura buta pada batas-batas yang begitu jelas terlihat? Pada kenyataan yang jelas-jelas menunjukkan titik akhirnya? Seperti keputusannya tiga tahun lalu. Dan ia tahu ia akan terluka jika ia bersikeras lagi bersikap pura-pura. Cukup satu kali, ketika rasionalitasnya kabur hanya karena hatinya meminta sesuatu yang lebih. Ketika hatinya memberontak karena cinta sepihak.

Seperti dua kisah yang sama dengan peran berbeda. Ia bertanya-tanya. Kenapa harus sosok itu, sosok yang penuh dengan kesempurnaan itu membuatnya kembali berpikir waras. Sosok lelaki itu terlalu sempurna untuknya. Ia yang hidup dalam khayalan dan ekspetasi gila itu bukankah tak cocok bersanding dengan seseorang yang penuh dengan kepastian dan jalan yang begitu cerah?

Ah, akhirnya terlalu bisa ditebak. Bahkan setelah tiga tahun lamanya, akankah ia akan mengakhiri begitu saja rasa dalam hatinya yang dipenuhi gula-gula kapas? 

Atau mungkin ini hanya sebuah ujian. Seperti pertanyaan yang sama dan diulang dalam waktu yang berbeda. Dan, mungkin ia memang sedang diuji. Akankah ia gagal lagi seperti ujian sebelumnya? Atau mungkin tiga tahun adalah waktu yang tepat untuk mengganti jawaban dan tahu mana yang benar?

Dan tiga tahun adalah proses hati menjadi dewasa. Menyikapi rasa spesial bernama 'cinta' tanpa harus terburu-buru, tanpa grasa-grusu. 

Ia memilih ya. Option terakhir dari dua pilihan. Ia mengakhiri lagi. Setelah tiga tahun lamanya. Ia hanya tidak ingin kesalahannya terulang kembali, untuk kedua kalinya. Ia hanya punya satu hati yang mulai pulih, yang tidak akan ia investikan untuk cinta yang sudah tahu akhirnya. Akhir ketika ia terluka lagi karena harapannya, karena bakat ekspetasinya yang terlalu tinggi.

Biarlah kini. Ia mau hatinya bertumbuh lagi. Ia mau memantaskan diri.
Untuk cinta, yang datang dengan tulus. Tanpa terburu-buru, tanpa penghakiman.

Seperti bisikan semesta yang cintanya bergetar begitu lembut dan menenangkan.



9 Februari 2017
Untuk ia yang harus terpaksa berhenti tersenyum sendiri.
Sudah kutuliskan kisahmu.




Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan