Hai Kamu, Aku Rindu!
Kamu tahu?
Meski ada begitu banyak impian-impian yang melambung tinggi menggapai-gapai ingin dicapai. Hanya ada satu, namamu yang kubalut dalam bingkisan rindu yang tak kenal kedaluarsa, menggantung sebagai bagian dari mimpi-mimpi besarku.
Namun, lagi-lagi apa kau tahu?
Dari sekian banyak impian itu. Mungkin ada satu yang selamanya tetap tergantung, mungkin ada satu yang ditakdirkan hanya untuk dilambungkan, mungkin hanya ada satu, satu yang mungkin terlalu mustahil.
Namamu itu, mungkin bagian dari ketidakmungkinan yang begitu keras kepala kugantung menjadi bagian-bagian mimpi besarku.
Namun, entah kenapa. Rasa-rasanya, terbang untuk menggapainya, sama seperti aku menghadapkan hati pada pilihan hidup atau mati. Meski retak rasanya selalu sama, seharusnya aku tak perlu setakut itu. Aku memang terlalu pengecut.
Namun kamu. Namamu yang bagian dari mimpi besarku, lagi-lagi aku ingin kamu tahu.
Aku hanya ingin bertemu.
Disebuah waktu tak terprediksi suatu saat nanti, saat kata bahkan tak sanggup melunaskan rindu, disebuah waktu dimana tatap menjadi bahasa lain dari 'hai' yang selalu alpa disetiap perjumpaan di waktu yang lalu, saat kata yang telah ditata sedemikian rupa tiba-tiba berantakan tak menentu. Dulu, saat aku masih bisa bertemu lewat pertemuan yang disengaja, lewat sebuah kebetulan yang dilebih-lebihkan. Aku rindu.
Di waktu yang lalu itu, aku pengagum kecilmu. Yang tiba-tiba lupa bagaimana cara bersikal biasa ketika berjalan melewatimu. Yang setiap waktu bercerita menggebu-gebu tentang tatap kamu yang begitu teduh. Bahkan kini pun, aku rindu. Pada sebuah tatap yang bertemu lewat ketidaksengajaan. Bahkan aku masih ingat, betapa degup jantung berdetak hiperbolis, betapa kamu menjadi sosok pertama yang bisa kutemukan di tengah orang-orang. Seolah kamu pusat edarku.
Di waktu yang lalu itu, aku menggantungkan namamu menjadi bagian dari mimpi besarku.
Aku hanya ingin bertemu. Menemukanmu lagi seperti waktu waktu yang lalu, meski kau berada di antara banyak lalu lalang dan keramaian. Seperti waktu yang lalu, kau seolah olah jadi pusat edarku.
Ah sudahlah. Ada yang lebih penting ketika kutahu kau bahagia dengan kehidupan barumu. Betapa aku ingin cepat waktu bergulir, ingin rasanya mencicipi bagaimana berkutat dengan diktat diktat perkuliahan. Dan tentu, akupun bahagia jika di tempat barumu akan ada sosok gadis pemberani yang siap menginvestasikan hatinya untukmu dengan tulus.
Namun jika kau belum menemukan. Bisakah kau tunggu aku sebentar lagi? Aku sedang memantaskan diri, mengejar mimpi-mimpi, agar suatu nanti aku berada di waktu yang tepat bahwa aku layak untuk dicintai.
Entahlah. Aku memang terlalu muluk-muluk. Betapa berekspetasi selalu menjadi candu, ah aku bisa membayangkan apapun di sana. Namun rasanya memang sakit, saat tiba waktunya diseret seret untuk kembali ke realita.
Semoga nanti. Namamu yang menjadi bagian mimpiku, bukanlah sebuah kemungkinan yang mustahil.
-Salam hangat
Dariku yang tiba-tiba kangen. Ah kamu, seolah olah kita pernah bersama. Padahal, saling menegur sapa pun tak pernah :(
17-02-2016
Aku cuma ingin bilang.
Minggu depan UTS, mengingatmu kembali rasa rasanya seperti minum es capuchino cincau di siang hari. Pahit-pahit manis, menyegarkan, namun cuma sebentar. Betapa kamu pelarian yang sempurna di tengah kepenatan. Ah anda saja disoal seluruh pertanyaannya tentang kamu. Ahaha.
Sumber gambar:
https://www.pinterest.com/doanphuong1905/aeppol/

Comments
Post a Comment