Tara




Tara tersenyum kecil, matanya tersirat kebahagiaan tersembunyi dari dalam benak hatinya kala sesosok lelaki tertangkap dari sudut matanya, berjalan tak jauh dari tempatnya berada.
Tara mengagumi setiap langkah lelaki itu.  Baginya, pria itu pemilik senyum paling istimewa yang pernah ia temui. Entah mengapa, rasanya tawa lelaki itu begitu magis, membuat jantungnya berdebar tanpa alasan, membuat kaki-tangannya dingin, membuat semacam desiran aneh yang tiba-tiba muncul dalam hatinya, menciptakan sebuah perasaan baru tanpa aba-aba. Hingga ketika ia menyadarinya, Tara tahu bahwa perasaannya berkata bahwa ia mencintai lelaki itu.
Tara membalikkan badannya. Memilih untuk berjalan menjauh, memilih untuk mengabaikan perasaannya yang semakin hari semakin membuat hatinya nyeri. Baginya itu adalah pilihan terbaiknya. Pilihannya untuk mengabaikan hati kecilnya, bahwa memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia takut jatuh terlalu dalam, sudah cukup rasanya merasakan bagaimana menggapai-gapai seorang diri dari sebuah lubang.
Tara mencintai lelaki itu, pasti. Namun apakah ia akan tetap berkata baik-baik saja saat matanya melihat ada begitu banyak gadis yang sama-sama mengaguminya, dan lebih pantas berada di samping lelaki itu dibanding dirinya? Apakah sebuah keputusan yang benar jika ia tetap berpegang teguh pada ekspetasinya? Bahwa lelaki itu akan menerima dirinya apa adanya. Bukankah terlalu muluk-muluk?
Bagi Tara, ia hanya sebuah bintang yang begitu kecil, tak terlihat. Dan laki-laki itu adalah sebaliknya. Ia terlihat seperti setitik debu yang akan tertutup sinar bintang lain yang lebih cerah. Ia merasa tak sepadan. Lelaki itu terlalu sempurna untuknya.
Pada akhirnya, ia akan tetap memilih berjalan pada akal sehatnya. Memilih membalikkan badan, dan mengagumi dari balik punggung. Bahwa hidup ini terlalu kejam untuk menjatuhkannya dari angan-angan yang terlalu tinggi. Cukuplah ia merasakan perasaan yang berharga itu, cukuplah ia belajar untuk memendamnya. Bukankah itu lebih indah? Bahagianya cukup melihat lelaki itu tersenyum dan tertawa lebar.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan