Luka dan Hati yang (tak mau lagi) Patah


Kenapa kamu masih saja percaya? Ada berapa banyak hati yang kamu punya? Perasaanmu sudah patah, sudah cukup patah bukan? Lalu apalagi? Apa yang kamu tunggu dari seseorang yang telah menamparmu berulang kali. Bukankah selama ini kamu sudah cukup dikecewakan?
Kamu merindukannya, bodohnya lagi dalam hatimu tertulis bahwa kamu bahkan terlalu mencintainya. Kamu bahkan memberikan bahagia kepada orang yang telah memberikanmu air mata. Kamu rela memberikan senyum yang begitu tulus dari hati yang bahkan jauh dari kata baik-baik saja. Lalu, ketika kamu tahu itu menyakitkan, kenapa kamu masih saja membohongi perasaanmu sendiri? Kamu mencintai orang yang telah menguburkan harapanmu, kamu mencintai orang yang mematikan mimpimu di depan matamu, dan kamu mengagumi orang yang bahkan mengacuhkan keberadaanmu sendiri.
Sudah berapa kali hatimu mempelajari tentang ‘luka’? Ada berapa banyak penyangkalan-penyangkalan yang kamu buat ketika logikamu memaksamu untuk menyerah dan merelakannya untuk pergi? Sudah berapa lama kamu bertahan dengan sikap acuhnya? Berapa banyak kesabaran yang kamu punya ketika dia bahkan berpura-pura tidak menyadari kehadiranmu di sekelilingnya, bahkan ketika kamu benar-benar sangat ingin bertemu dengannya. Tidakkah kamu bosan dengan kepura-puraanmu yang mengatakan bahwa kamu “tidak apa-apa?” ketika matamu memaksa untuk melihat punggungnya menjauh dan pergi dengan orang lain di depan matamu sendiri? Lalu apa arti dari airmata yang selama ini kamu teteskan? Kamu lelah bukan? Kamu sepenuhnya sadar bahwa ia sudah mensia-siakanmu. Bukankah tidak ada alasan lagi untukmu bertahan? Tak ada alasan lain kan selain kamu harus berhenti memperjuangkannya? 
Kasihanilah hatimu sekarang. Berhentilah melukai dirimu sendiri dengan mempercayai hal yang bahkan kamu ragu untuk membenarkannya. Jangan menaruh hatimu sepenuhnya pada orang yang telah menorehkan luka padamu. Karena semua jenis luka tidak akan benar-benar sembuh sempurna. Yakinlah, akan ada orang lain yang akan datang mengisi hatimu kembali, membuatmu mengerti apa arti cinta dengan embel-embel ‘bahagia’ bukan malah ‘terluka’ .
Karena dasarnya Tuhan sedang mendewasakanmu. Sedang mengajarimu sesuatu yang belum kamu ketahui saat ini. Tuhan hanya mengingatkanmu, bahwa ada hari-hari esok yang lebih cerah. Karena semuanya sudah direncanakan, dan tangis-tangis itu sudah menjadi bagian dari apa yang ditulis Tuhan bahkan sebelum kamu lahir.
Dan mungkin, akan ada saatnya dia yang telah berpura-pura buta, bisu, dan tuli padamu akan menyesali apa yang telah ia lakukan kepadamu suatu saat nanti.
Mungkin ini perjalananmu. Tunggulah sebentar lagi, akan datang hal lain yang bisa membuatmu bahagia, dan akan datang orang lain yang bisa membuatmu tertawa lepas dan melupakan kesedihan yang kamu rasakan saat ini.
Sekarang tersenyumlah, berterimakasihlah pada hati yang rela terluka berulang kali.
Percayalah. Tuhan tahu mana yang terbaik untukmu. Dan yakinlah, dia mungkin bukan orang yang dipilih Tuhan untuk bisa membahagiakanmu.

-Anggap saja ini adalah perantara Tuhan untuk membuatmu tersadar, agar kamu tidak terlalu kecewa dan jatuh terlalu dalam.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan