Senja, dan Dermaga Kayu


“Kau tidak menyukaiku. Katakan.”
Audrey mencoba menahan buliran air yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Menahan semua gejolak yang kembali berkecamuk dalam hatinya. Ia tak ingin mengatakan hal itu, sungguh. Tapi apakah ia bodoh? Tidak, ia tidak tolol. Ia benar-benar tak ingin lelaki itu membohongi perasaanya sendiri lebih jauh.
“Aku tidak tahu,” Kris mengadah menatap senja, tidak ada rasa ketertarikan sedikitpun. Entahlah, ia hanya tak suka suasana seperti ini, dan pertanyaan itu… ia juga tak berniat menjawabnya.
Audrey menghela nafas panjang.
“Kris… aku bosan. Setiap hari kau selalu diam, dingin, bersikap acuh. Lantas, untuk apa pertunangan kita? Kau tidak menyukaiku, tapi kau setuju dengan orangtuamu. Dan kau bahkan-“ 
“Tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaanku. Kau seharusnya menolak, meskipun kau tahu aku sangat menyukaimu,” ucap Audrey, tangannya berpijak kuat pada dermaga kayu itu, airmatanya telah menetes, bercampur dengan ombak pantai yang kini telah menjadi teman setianya.
Kris tidak menyahut. Ia masih saja diam. Ia benar-benar tak tahu akan bagaimana, tapi memang begitulah kenyataannya. Ia tak ingin mengatakan apapun sekarang.
Audrey memandang langit yang perlahan jingga, “Ah benar, aku yang bodoh seharusnya aku menolak pertunangan ini,” ujar gadis itu tersenyum getir.
Audrey merasa begitu bodoh. Bagaimana tidak? Ia menginginkan seseorang yang bahkan tidak menyukainya sama sekali. Untuk apa ia berharap? Audrey hanya ingin membuatnya bahagia. Lantas untuk apalagi ia berada disana, jika hal itu malah membuat lelaki yang dicintainya menderita?
Gadis itu menatap senja sejenak, hingga tatapannya tertumbuk pada cincin yang terpasang manis di tangannya. Ia melepaskan itu perlahan, meletakannya di samping Kris.
“Aku tidak tahu mengapa seperti ini. Aku tidak akan membencimu. Aku akan bersalah seumur hidup jika aku terus membiarkanmu seperti ini. Mungkin ini yang terbaik. Aku akan melupakanmu. Ini terakhir kalinya, aku janji,” ucapnya mencoba tersenyum.
Entah keberanian dari mana, Audrey menyentuh tangan Kris. Lelaki itu sedikit tersentak, namun sedetik kemudian ia membiarkan gadis itu memegang tangannya. Seperti ada getaran aneh yang ia rasakan, baru tersadar bahwa sentuhan itu begitu hangat. Tanpa sengaja Kris membalas senyuman Audrey.
Gadis itu melepaskan tangannya. Kehangatan itu tiba-tiba hilang.
“Doakan semoga aku segera menjadi pelukis hebat, selamat tinggal.” Audrey bangkit dari duduknya, kemudian berlari meninggalkan Kris di ujung dermaga kayu.
Entah ia mau berlari kemana, Audrey pun tak tahu, gadis itu hanya ingin membawa pergi perasaannya jauh-jauh, begitu jauh, hingga siapapun tak pernah bisa menjangkaunya lagi. Ia ingin pergi. Sungguh, ia sudah berjanji akan itu.

Kris merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, tetapi mengapa baru sekarang? Lelaki itu menggenggam cincin yang dilepas Audrey erat-erat, meyakinkan bahwa ia memang tidak menyukai gadis itu. Tetapi mengapa hatinya terus menentang pikiran yang telah ia yakini selama ini? Mengapa tiba-tiba perasaan itu ada? Mengapa?
Kris menoleh ke samping kiri, dan ia baru tersadar bahwa gadis itu memang telah pergi.
Ia benar-benar menyesal sekarang. Ia terlambat, ia terlambat sadar bahwa ia menyukai gadis itu. Semakin lelaki itu menentangnya, semakin kuat perasaan itu ada, ia mencintai Audrey, hatinya tidak berbohong. Hingga Kris bangkit dan mencoba mengejarnya. Tetapi entahlah, Audrey sudah pergi jauh.
Sangat jauh. Hingga dirinya pun tak bisa lagi menjangkau gadis itu untuk kembali ke sana, menikmati senja di ujung dermaga kayu tua itu kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan