Cerpen: Biarkan Aku Melupakanmu





"Bagaimana bisa kau meminta bantuan padaku? Aku mencintaimu, tetapi mengapa kamu malah memintaku untuk menyatukanmu dengan orang asing?”

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Bagaimana bisa aku menolak permintaanmu? Aku akan bersalah. Tapi, apakah aku harus mengabaikan diriku sendiri? Mengorbankan perasaan demi kau dan orang asing yang baru bertemu? Oh tuhan, aku juga berhak bahagia. Aku berhak bukan?
“Ayolah bantu aku, Sya. Setelah ini, aku janji aku akan menuruti permintaanmu. Kamu tahu kan? Aku menyayanginya meskipun aku baru bertemu dengannya. Setidaknya kamu perempuan, dan kamu bisa mendekatkan aku dengan gadis itu. Jadi, bantu aku.”
Aku benci dengan situasi seperti ini. Ah sialan, kupikir tadi dia hanya bercanda. Tapi sekarang, melihat matanya saja sudah membuatku lemas. Dan yang kutahu, rasanya aku harus menghukum diriku sendiri. Apa yang harus aku lakukan?
“Tapi, kamu belum mengenalnya dengan jelas, Radhis,” ucapku hati-hati.
Ya tuhan. Kekecewaan itu, ia memandangku dengan tatapan mengerikan.
“Kamu tidak percaya padaku? Aku bisa mengenalnya lebih banyak setelah aku dekat dengannya. Kamu benar-benar tidak mau membantuku? Sedikitpun?”
Dia merajuk, aku hanya menatap tetesan hujan yang jatuh mengenai kaca kafe. Ah rasanya aku ingin menangis, menjerit sepuasnya, kemudian menuntut keadilan untukku! Bodoh!
“Okey. Aku akan membantumu, Ibuku memintaku untuk segera pulang, sampai jumpa besok.”
Aku pamit padanya, kemudian pergi tanpa sedikitpun menatap matanya. Aku keluar, dan aku benar-benar menyesal sekarang.
===-===
 “Keysa, apa aku berbuat salah padamu? Mengapa kamu menghindariku?” Radhis menatapku, aku hanya bisa menaikkan sebelah alisku.
“Aku tidak menghindarimu,” jawabku.
“Menjaga jarak maksudku,”
“Dari dulu aku memang seperti itu, kepada siapapun. Kamu melupakan sesuatu tentangku Radhis,” ucapku dan dia tertawa.
“Oh iya, bagaimana menurutmu? Bukankah aku dan Kara pasangan yang cocok?”
“Seperti yang teman-teman katakan.”
“Ah bisakah kau jujur sedikit padaku? Kuyakin, meskipun kamu membantuku, kamu tak pernah setuju dengan hubunganku.”
“Entahlah, yang terpenting aku sudah membantumu dan aku tak punya hutang lagi padamu,” ucapku.
“Ya, aku memang harus mengucapkan terimakasih untuk itu.”
Dia tersenyum, senyum yang kurahasiakan pada diriku sendiri bahwa hal itu yang telah membuatku takut jika dia tiba-tiba pergi. Astaga.
“Oh iya, tapi kupikir aku masih punya hutang padamu Kesya,” ujarnya, aku mengerutkan alis.
“Hutang?”
“Ya, membalas kebaikanmu.”
“Tak perlu," jawabku.
“Kenapa? Aku bisa membantumu, berpacaran dengan Kevin mungkin?”
“Terimakasih, tapi aku tidak mau.”
“Kau menyukainya.”
“Aku tidak pernah.”
“Kau bercanda?”
“Kedengarannya seperti itu?”
“Haha… yasudahlah, terserah padamu.”
“Oh iya, untuk beberapa minggu ini aku akan sibuk. Kuharap jangan kesepian karena aku tidak akan menghubungimu dan memberi kabar setelah pertemuan ini.”
Ya, karena kamu akan menghubungi dan memberi kabar tentangmu hanya untuk gadis asing itu, bukan?
Aku tertawa kecil. Kisah yang menyedihkan bukan?

===-===

Aku terbiasa dengan kesepian ini. Apalagi setelah kutahu bahwa aku benar-benar mengakhiri perasaanku. Entahlah, aku hanya merindukan senja dan ice lemon yang terjejer dengan Cappuchino kesukaanmu. Aku merindukan senyumanmu. Merindukan kafe tempat kamu selalu mencurahkan kesedihanmu.
Aku benar-benar merasa kehilangan, apalagi setelah aku memutuskan bahwa aku harus pergi dari hidupmu.
Kuharap London akan membantuku menyembuhkan luka, setelah aku kehilangan  cinta masa kecilku.
===-===

Radhis memandangku, kutahu dia tidak akan setuju jika aku memilih pergi ke London secepat ini. Kara memelukku, kemudian orang tuaku, dan Radhis. Lelaki yang kini memandangku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Tatapan mengerikan ketika ia merengek padaku waktu itu.
“Baik-baik ya,” Kara menepuk bahuku, aku percaya dia gadis yang lebih pantas berada disamping Radhis. Dia akan membuat Radhis bahagia. Ia sudah berjanji padaku.
Aku segera berjalan, pesawat yang kutumpangi akan berangkat sebentar lagi. Dan Radhis menghentikan langkahku begitu saja. Ia menyebut namaku untuk keterakhir kalinya.
Aku berbalik badan. “Ada apa?” tanyaku.
“Aku masih punya hutang padamu Sya. Setidaknya ucapkan permintaanmu sekali saja. Apapun.”
“Permintaan? Bukankah dulu sudah kubilang, aku tidak meminta apapun darimu.”
“Katakanlah,  aku akan melakukannya untukmu.”
Aku terdiam.
“Baiklah, kau berjanji akan mengabulkannya kan?” tanyaku.
“Ya. Apa permintaanmu?”
“Tolong, jangan hubungi aku. Dan jagalah Kara. Kau mengerti?” ucapku sungguh-sungguh. Ada raut kekecewaan di matanya.
“Kenapa?” tanyanya, nada suaranya benar-benar membuatku putus asa.
Aku menghela nafas panjang.
Hening sejenak.
Radhis tertawa, tawa aneh yang kudengar, “Yah aku tahu aku tak punya hak untuk bertanya lagi… oke baiklah.”
Aku tersenyum samar, “Sebenarnya aku menyukaimu, tetapi aku harus melupakanmu, Radhis.”
Dan aku tahu ini terlambat.
Tidak ada yang mau menanggung akibat dari apa yang sudah terlambat.
Tidak ada yang mau.

Aku segera berbalik dan melangkah pergi, airmataku menetes lagi. Aku tak mungkin bisa meraihnya, tak mungkin. Aku harus menghilang dari hidupnya, kemudian membuang khayalan gilaku jauh-jauh.
Selamat tinggal Radhis, pangeran masa kecilku. 

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan