Surat Cinta Pak Ahok


Pak,
Terimakasih sudah mengibarkan kembali rasa percaya yang sudah lama lenyap. Rasa cinta ini tumbuh melebihi biasanya pak. Ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan setiap kali saya membaca berita tentang bapak. Saya jatuh cinta setiap kali bapak tersenyum sambil melayani dengan sepenuh hati para warga layaknya keluarga sendiri. Saya jatuh cinta pak.

Rasa nasionalisme di dada tiba-tiba tumbuh berpuluh puluh kali. Bahwa negara ini masih punya sosok berani, masih ada pahlawan yang sebenar-benarnya. Bapak membuat saya berekspetasi tinggi, bahwa bangsa ini masih memiliki harapan untuk menjadi bangsa yang bersih.  Bapak menumbuhkan keinginan-keinginan kecil di hati, bahwa ingin rasanya menjadi seperti bapak, ingin rasanya menemani bapak agar tak perlu berjuang sendiri.

Layaknya lilin, bapak menjadi secercah cahaya meski harus mengorbankan diri. Pak Ahok mengajarkan saya betapa keras hal hal yang harus dihadapi jika kita memilih untuk berdiri pada pihak yang benar. Bahwa jujur pun perlu mental. Meski di bangsa ini, orang yang benar adalah pemilik musuh terbesar.

Tangis ini tak bisa tertahan lagi pak. Betapa hujatan dan hinaan datang silih berganti.  Membayangkan betapa bapak ditampar kesana kemari, dihantam berulangkali,  membayangkan betapa ada begitu banyak paku-paku kecil yang tersebar yang kapanpun siap membuat kaki bapak terluka. Bahwa di sana sini ada orang yang dalam persembunyiannya siap sedia membidik bapak lalu menjatuhkan ketika waktunya tiba. Saya ngeri sekaligus kagum. Diantara resiko-resiko itu, Bapak tetap melangkahkan kaki dengan berani, tanpa goyah.

Begitukah pak? Begitukah akibat yang didapatkan jika kita berbeda dan melangkah dengan kejujuran? Lutut saya lemas. Melihat superhero kebanggaan saya pada akhirnya harus mengalah kalah untuk mereka yang hatinya dipenuhi kebencian dan dendam. Yang eksistensinya terancam karena ketegasan dan keberanian bapak.

Doa ini tak pernah alpa untukmu, Pak. Rasa beranimu tak pernah lekang di dada. Rasa cinta yang pernah berkibar ini masih tetap sama. Meski kebencian di dada akan terus berkobar untuk mereka yang dengan kelicikan mengatasnamakan Tuhan, dan menodai persaudaraan. Seperti kata Imam Ali as, meski bapak bukanlah saudara seiman saya, bapak adalah saudara saya dalam kemanusiaan.

Percayalah, Pak. Tak hanya saya di sini, tapi di luar sana ada mereka yang dengan tulus mendukung bapak. Akan terus ada doa-doa yang membumbung tinggi ke langit, menjadi satu kekuatan yang tak terlihat. Itulah kekuatan sebenar-benarnya.

Dua tahun tak apa pak. Penjara tak bisa memenjarakan rasa keberanian dan kejujuran bapak. Penjara tak bisa memenjarakan seorang ksatria dan nasionalismenya. Istirahatlah sebentar pak, sambil kumpulkan lagi kekuatan-kekuatan dan strategi untuk bangkit kembali. Barangkali Tuhan sedang mempersiapkan skenario lain yang lebih indah.

Semoga bapak tak pernah benci kepada mereka. Mereka yang telah berusaha menjegal bapak, yang menodai semangat tulus bapak untuk mengabdi.  Seperti kata Dwita, pembencimu adalah penggemarmu nomor satu. Saya tahu ada lubang menganga dihati bapak, ada sakit hati yang tak terhitung lagi. Ada kelelahan yang tak bisa digambarkan. Lelah selelah lelahnya.

Saya tak bisa membayangkan lagi bagaimana perasaan bapak dan keluarga. Bagaimana segala perjuangan yang selama ini akhirnya berbuah hal menyakitkan. llPercayalah Pak. Bukan hanya saya, tapi di luar sana masih ada begitu banyak orang yang cintanya pada bapak melampaui saya. Tetap tegar dan tabah. Karena Tuhan hadir di sisi mereka yang berdiri pada kebenaran.


Aku padamu, Pak Ahok.
Tetaplah tersenyum superhero kebanggaan saya
Salam cinta setulus-tulusnya



Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan