Gadis Pencinta Angin


Aldis, lelaki itu masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia segera berlari ke bar sewaktu An menelponnya, mengatakan bahwa Jakarta masih baik-baik saja tanpa dirinya. Ada rasa yang tak bisa digambarkan, logikanya buntu hanya karena mendengar suara An, dan tanpa pikir panjang ia menembus hujan, mirip seperti orang kesetanan yang tak sabar menunggu kekasihnya pulang. Namun bukan, Aldis tahu bahwa An hanya sekedar singgah, singgah yang begitu sementara, lalu esok menghilang, lenyap seperti asap.
An sedikit mabuk sewaktu Aldis tiba. Rambut An sudah panjang, Aldis ingat terakhir kali mereka bertemu rambut An hanya sebatas bahu. Dan tunggu, Aldis hampir tak percaya bahwa gadis itu mengenakan dress selutut, bukan karena apa, tapi An yang dikenalnya begitu tergila-gila pada jeans dengan benang-benang semwarut yang bolong bolong di bagian lutut. Dan Aldis masih ingat dengan jelas, bagaimana ekspresi An sewaktu memperkenalkan baju kebesarannya dengan bangga.
“Jakarta masih pengap sesak, kau seharusnya tak perlu kesini karena paru-parumu tak akan puas dengan secuil oksigen oplosan. Atau mungkin kau sudah kehabisan destinasi perjalanan, atau semesta sudah memecatmu sebagai pengelana?” tanya Aldis sambil menuangkan bir ke dalam gelasnya. Gadis itu tertawa mendengar perkataannya.
“Aku selalu takut,  kadangkala aku berpikir kau seperti peramal ulung yang diam-diam mampu membaca pikiranku. Kau tahu sebenar-benarnya bahwa aku butuh kebebasan, Jakarta terlalu pengap, aku butuh semesta yang seluas-luasnya untuk kuhirup oksigennya dengan satu kali tarikan. Tapi mengetahui bahwa Jakarta masih baik-baik saja membuatku sedikit bahagia,” kata An, suaranya masih terdengar jelas meski ia sudah setengah mabuk, di sampingnya dua botol bir sudah kosong melompong.
Aldis tersenyum tipis, pasti ada sesuatu yang salah dengan gadis itu. Itu bukan ekspresi yang biasanya Aldis temui sewaktu mereka bertemu setelah sekian lama. Aldis yang selalu menunggu gadis itu pulang, meski An selalu berkata bahwa ia tak pernah mau menetap dimanapun. An yang benci terikat, An yang tak mau terjebak di sebuah cangkang yang bernama rumah, An yang selalu terobsesi pada perjalanan panjang tanpa tujuan.
“Aku pernah berkata padamu bahwa aku adalah angin. Yang tak datang darimanapun, atau pergi kemanapun. Aku angin yang tak bisa dikekang oleh apapun. Angin yang membebaskan, yang menyatu dengan semesta, angin yang membawa aroma bunga-bunga dari kebun, bau pasir dari gurun, bau dari daun-daun kering yang rela diterbangkan,” kata An menjeda, ia menelan ludah. Raut wajahnya tak bisa terbaca, ada gurat gelisah di balik suaranya.
An melanjutkan, “Tapi kini aku gelisah, Dis. Aku bertemu pria di kota tua, ia seteduh senja. Aku jatuh cinta padanya.”
 Aldis menelan ludah, entah mengapa ada sesak yang tiba-tiba bergerumul di dadanya. “Lalu?”
“Senja ternyata milik matahari. Melihatnya selalu pulang ke gadisnya membuatku remuk. Perjalananku terasa hampa rasanya, aku kehilangan sensasi menggebu-gebu, perjalananku sekejap menjelma menjadi sia-sia” kata An, nada suaranya bergetar, menahan perasaannya agar tidak tumpah ruah.
Aldis menyesap birnya, “Lalu karena itu kau ke Jakarta? Kau benci kota ini tapi kau menjadikannya tempat pelarian diri," kata Aldis, ia tersenyum tipis. Memang itu kenyataannya.
“Malam ini aku tidak akan pergi lagi,” katanya sambil mendongakkan kepala, bola matanya memantulkan cahaya remang, ada sesuatu yang sulit terbaca di sana.
Sedangkan Aldis masih tak paham, “Tak pergi lagi? Apa maksudnya?”
“Aku lelah Dis. Aku ingin pulang, aku ingin punya rumah, aku ingin punya orang kesayangan yang setia menunggu meski aku pergi sejauh apapun. Aku ingin diam ditempat, duduk-duduk menyelonjorkan kaki.”
An terdengar mulai meracau. Aldis tahu An gadis paling keras kepala yang pernah ia temui. Setelah bertahun-tahun An pergi ke satu tempat ke tempat yang lain tanpa petunjuk, menghilang dan muncul tanpa peringatan. Bukankah ini terlalu tiba-tiba untuk mengatakan keputusannya? An itu angin, yang selamanya tak pernah berhenti di satu tempat, yang bersedia mengelana karena itu adalah esensinya.
“Kau mabuk, kau hanya sedang patah hati, besok kau akan menemukan kembali sayapmu, kau tak perlu rumah, kau angin yang terbang sebebas-bebasnya,” kata Aldis, ia tahu An sudah mabuk sepenuhnya, An memang bicara begitu, namun Aldis tahu besok An pasti sudah lupa apa yang dikatakannya malam ini, lalu An akan menghilang lagi seperti waktu-waktu sebelumnya. Aldis menengok ke luar jendela bar, hujan tidak lagi merintik, ia berniat untuk mengantar An, namun gadis itu menghentikannya.
“Namaku An, Anila, angin. Aku sudah memberitahumu berulangkali tentang arti namaku, bukankah kini aku terlihat seperti gadis gila yang terobsesi pada sebuah  perjalanan? Tapi kau? Aldis, kau tak pernah mengatakan artinya padaku.”

Aldis diam ditempat, entah mengapa udara di sekitarnya tiba-tiba terasa menajam, menusuk-nusuk pembuluh darahnya. Ia menelan ludah, dengan sisa-sisa kekuatannya ia bergumam, “Aldis, rumah, tempat untuk pulang, tempat yang tak kau sukai, tempat yang terlalu pengap untuk gadis sepertimu yang mengharapkan udara sebebas-bebasnya.”

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan