Senja, Kamu, dan Perpisahan.
Karena menyangkal perasaan hanya membuat lelah, bukankah menerima menjadi pilihan terbaik?
Terimakasih telah hadir. Ada sesal dan rindu yang dipendam. Bukan kamu, tapi mungkin sejak awal akulah yang menyeretmu menjadi bagian dari setiap ekspetasi. Bukan kamu, tapi akulah yang seharusnya mampu menjaga hati. Perasaan ini terlalu berharga untuk gadis seperti aku, dan patah yang kualami bukan hanya sekali, tentu maaf jika selama ini aku membencimu atas perasaan yang datang tiba-tiba. Karena ijinkan aku mengakui sesuatu, dulu aku pernah jatuh hati pada sosok sepertimu, dan luka itu masih ada, ingatan itu masih ada. Sesak, itu yang kurasakan ketika aku menyadari aku akan patah untuk kesekian kalinya.
Aku menerima. Degup jantung yang berdetak tak berirama, letupan perasaan gembira hanya karena kamu berbicara padaku atau sekedar senyum basa basi yang kamu lontarkan, itu begitu spesial. Spesial. Dan sialnya, ada saat aku tak bisa mengontrol ekspresi, seperti gadis kegirangan dan hiperbolis.
Namun hari ini. Gadis naif ini belajar sesuatu untuk menerima realita. Ah kamu, ada jarak yang begitu jauh antara kamu dan aku. Jauuuuh sekali. sekalipun hampir setiap hari kita bertemu, tapi memang itulah kenyataannya, kamu seperti datang dari tempat yang lain, kamu datang dari tempat yang berbeda, ya, kita memang berbeda, itulah kenyataannya. Berbeda, sangat.
Biarlah aku mengakuinya. Aku memang mengagumimu, dan setiap waktu aku berharap perasaan ini tak perlu berlebih. Porsi ini terlalu cukup. Pengagummu, ah menggelikan bukan? Tapi, aku memang menyukaimu. Ahaha. Karena kamu, aku merasa untuk kali pertama menjadi gadis normal. Seperti gadis-gadis lain, aku jatuh hati pada sikapmu. Ya, seharusnya sudah cukup perasaan ini hanya sebatas mengagumi.
Mungkin, dari sekian banyak rasa. Inilah yang paling membuatku dewasa. Terimakasih kamu, yang menghadirkan banyak rasa untuk beberapa waktu terakhir. Terimakasih karena mengajarkan aku untuk menerima sepenuh hati, sekaligus melepasnya tanpa harus ada luka dan rasa benci.
Aku melepas perasaan ini pergi. Bukan karena aku masih takut untuk jatuh hati. Tapi melepaskan adalah bentuk pencegahan untuk luka-luka, terpaksa melupakan setelah terlambat sadar karena patah hati bukankah terlalu menyakitkan?
Terimakasih, maaf, dan selamat tinggal rasa, kamu, dan gula-gula kapas. Aku akan belajar untuk mendewasakan diri lagi dan lagi. Dan besok, aku akan belajar untuk membiasakan diri bersikap biasa. Selamat tinggal rasa canggung, degup tak beraturan dan rasa rasa yang lain. Yang pernah menjadikan kopiku sejenak terasa seperti coklat panas.
Aku melepaskannya. Segalanya tentang kamu.
21 03 17 | Bali
Setelah sehari bertemu senja di Kuta. Aku tahu, aku tak bisa jatuh hati pada dua sosok berbeda pada waktu yang sama bukan? Ahaha :'

Comments
Post a Comment