Sebuah Tatap, Ia Menjadikanku Pengecut Paling Sempurna



Hal yang paling disyukurinya saat ini adalah kenyataan bahwa ia sedikit berhasil untuk lari dari perasaannya. Sesuatu yang berharga, bahwa cukup dengan menahannya, ia tak akan jatuh lagi.
Perasaan takut itu masih ada. Perasaan yang membuatnya takut untuk mengakuinya. Cukup, pikirnya.
Namun ia lupa, ia tak pernah tahu kapan datangnya cinta. Bahwa cinta mungkin tiba sebelum ia benar-benar menyembuhkan luka dalam hatinya.
Ia pikir, dengan menutup hatinya, ia takkan pernah merasakannya lagi. Namun cinta selalu datang seperti pencuri, mendobrak pintu tanpa suara. Dan sebelum ia memberikan izin, cinta telah menguasai sepenuh hatinya.
Awalnya ia membiarkan segalanya mengalir, namun cinta yang dulunya baik berubah menjadi pencuri paling cerdik. Pencuri yang  membawa kabur separuh hatinya.
Ia hanya tak ingin separuhnya lagi hilang. Separuh hatinya. Apakah terlalu muluk-muluk harapannya?
Tapi cinta datang lagi, tak peduli apakah pertahanannya telah dibangun dengan kokoh. Tak peduli apakah ia telah berhasil menggembok hatinya dengan kunci terbaiknya.
Karena cinta selalu datang tanpa aba-aba. Dan seperti ketakutannya, ia menyadari dengan lebih, bahwa cinta kini sedang berusaha menyusup lewat sebuah tatap. Tatap yang akan membuat hatinya menumbuhkan harap. Tatap yang mencoba mengacaukan lagi tidur malamnya. Tatap yang menumbuhkan lagi angan-angannya, lalu menjatuhkan dirinya begitu saja.
Dan ia mulai bertanya-tanya. Apakah ia benar-benar akan kehilangan benteng pertahanannya hanya karena sebuah tatap? Hanya karena tatap yang datang ke dalam matanya. Tatap yang sepersekian detik terlalu tiba-tiba untuk hadir dan berbahaya untuk hatinya. Bukankah terlalu lucu jika pertahanannya lenyap hanya karena sebuah tatap sesosok pria asing?
Belum terlambat, tentu masih ada waktu untuknya. Sebelum saraf otaknya mulai bekerja di luar akal sehatnya. Sebelum tatap yang datang itu jatuh ke dalam hatinya. Ia hanya perlu menahannya, agar tatap itu tetap tertahan di matanya, tak perlu sampai ke hati.
Meskipun hatinya berbisik pelan merindukan cinta, tapi kenyataan bahwa ia takut jatuh membuatnya kembali  siaga. Karena ia tak akan dengan mudah membiarkan separuh hatinya hilang lagi.
Ia bertanya-tanya lagi dalam diamnya. Tak bisakah ia merasakan cinta tanpa harus jatuh? Cinta tanpa jatuh. Cinta yang tak perlu membuat salah satunya jatuh atau menjatuhkan diri.
Ia hanya belum berani. Mungkin bukan sekarang, bukan saat ini,  bukan saatnya untuk merasakan cinta. Ia hanya sedang berusaha menghalau kebimbangannya. Apakah selama ini ia hanya takut atau ia sedang mencoba menyangkal kenyataan bahwa ia terlalu pengecut?





Namun ia tahu dengan pasti. Ia hanya butuh waktu. Karena ia percaya dalam hati bahwa akan tiba saat dimana ia akan menerima kehadiran cinta dengan lebih berani :)
13-12-16
 

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan