Surat (untuk) Secangkir Kopi (2)





Hai,
Ucapan sapa itu, apakah masih cukup pantas untuk kutuliskan atas surat yang terlalu terlambat untuk dibalas? Terimakasih atas 120 hari yang kau hitung itu. Dan maaf, kau benar, aku terlalu patah hati, dan mungkin jika kau tanya kemana aku selama ini. Jawaban atas kealpaanku di kedai itu sampai saat ini masih sama, aku sibuk mengisolasi hatiku di suatu tempat tersembunyi, disuatu tempat yang jauh, di tempat teraman yang bisa ku simpan, agar hatiku tak perlu retak lagi. Hingga ada hal yang tiba-tiba menggelitik saat ku terima surat ini, kau mengingatkanku kembali pada senja.
Ada yang membuatku tersenyum kecil, saat kau bilang jika aku bisa jatuh cinta dengan minuman lain seperti lemon tea ataupun sejenis wine. Kau benar, dan sungguh aku sudah melakukan itu. Namun, segalanya tak semudah yang kau katakan. Aku selalu gagal, dan perasaan ini selalu saja kembali pada laki laki yang kau sebut pangeran coklat itu. Sudahlah, tak apa, hati ini resmi melepasnya.
Pecandu kopi, terimakasih sudah menulis surat untukku, terimakasih sudah membuat hatiku hangat ketika kau menyebut senja, terimakasih atas waktu yang kau habiskan untuk menemaniku di waktu-waktu saat aku masih menjadi pengunjung setia kedai itu, dan terimakasih atas setiap tamparan di setiap kata yang membuatku tersadar, kau benar, aku terlalu bodoh menanti ucapan perpisahan dan mencintai seseorang yang bahkan tak menyadari keberadaanku.
Pecandu kopi, apa kau sudah menjadi pengunjung tetap kedai itu? Bagaimana dengan senja? Bukankah di kedai itu kau bisa melihatnya dengan jelas? Apa kau kini menjadi pengagumnya seperti aku? Memang benar, senja selalu bisa menghipnotis, bukankah senja menjadi hal yang sangat disayangkan untuk bisa kau abaikan?
Mungkin, jika saja diwaktu-waktu itu kau punya sedikit keberanian untuk sekedar menyapaku, aku yakin kita bisa berteman setidaknya. Dan seperti yang kau bilang, cappuchinoku mungkin bisa menemani secangkir kopimu menatap senja. Terdengar mengasyikkan bukan?
Dan yang kau tulis di surat itu tak sepenuhnya benar. Siapa bilang aku tidak menyadari keberadaanmu? Aku masih ingat dengan jelas, saat mataku mencoba mengalihkan pandangan dari layar laptop yang semakin lama membuat mataku kering, dan aku bertemu mata denganmu. Kau yang waktu itu duduk sendirian dengan kemeja berwarna biru dan sebatang rokok di tangan kirimu mencoba mengalihkan pandangan. Bukankah aku benar? Aku yakin kau pun mengingatnya.
Lalu bagaimana denganmu? Ada sesuatu yang bisa kutangkap dari sorot matamu waktu itu. Matamu seperti berkata ‘Tempat ini tepat untuk orang yang kehilangan tujuan,” apakah aku benar? Jangan disangkal, aku baik dalam membaca orang lain. Dan kopi dan sebatang rokok itu seperti pelarianmu.
Sungguh, setelah membaca suratmu itu, kedai itu menarikku kembali. Ingin rasanya bertukar cerita denganmu, menikmati senja, dan menikmati kenyataan bahwa kita berdua adalah orang asing yang tiba-tiba dekat karena secangkir cappuchino.
Seperti harapanmu. Suratmu itu sampai di tanganku dengan selamat. Namun mungkin, dorongan untuk membacanya terlalu terlambat. Sore itu aku kembali ke kedai setelah sekian lama. Barista laki-laki itu tak lagi bekerja di sana, dan aku tak menemukanmu di pojokan kedai. Saat itu pula aku tersadar, surat itu terlalu kedaluarsa untuk ku balas.
Maaf atas ketidakhadiranku di kedai. Namun percayalah, Tuhan selalu punya rencana indah, jika memang takdirnya, kita pasti akan dipertemukan.

Salam hangat
Untuk pria pecandu kopi di tempat yang tak terprediksi
Ada cappuchino yang kembali, menunggu secangkir kopi di kedai tempat senja menanti

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan