Arlet (1)





Arlet sedang duduk di depan rumah pohonnya, menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran serta tersenyum lebar saat beberapa peri menyapanya dan melambaikan tangan dari bawah. Arlet membiarkan kakinya menggantung, membiarkan angin menyentuh kulitnya.
“Kudengar, pangeran akan ke hutan,” kata Airy, peri yang kini sedang menyisir rambut Arlet. “Kau ingin bertemu dengannya?” tanyanya.
 “Dia akan ke hutan?” tanya Arlet terkejut. Pangeran itu, akan pergi ke tempat dimana ia berada?
            Airy mengangguk, “Aku dengar dari Gaby, kemarin dia pergi ke istana kerajaan. Aku sering melihatnya berkunjung kemari, memetik bunga matahari bersama kudanya, menurutku dia pangeran muda dan paling tampan di negeri ini, dan ini pertama kalinya seorang pangeran berkeliling sendiri ke hutan tanpa pengawal. Aku masih bertanya-tanya bagaimana dia tahu tempat ini.”
            Arlet terlihat berpikir sejenak, terlihat ragu. “Benarkah?” gumamnya dengan pelan, diam-diam dalam hatinya ia mengiyakan perkataan Airy, benar yang dikatakan Airy, ia juga melihat lelaki itu, lelaki yang menyihir Arlet untuk tetap berada dalam persembunyiannya, mengamati punggung lelaki itu lama, seolah ada sesuatu dalam lelaki itu yang membuat degup jantung Arlet begitu cepat. Seakan Arlet akan kehilangan lelaki itu jika ia menampakkan dirinya.
Airy menaruh flower crown di atas kepala Arlet, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. “Sudah selesai, kau sangat cantik sekarang.”
“Terimakasih,” kata Arlet tersenyum, namun raut wajahnya berkata sebaliknya.
Airy yang menyadari hal itu lalu terbang ke hadapan Arlet, sambil menyilangkan tangan di depan dada. Menatap Arlet dengan penuh tanya, “Apakah ini ekspresi jatuh cinta? Penuh keraguan?” tanya Airy mengerutkan alis yang sontak membuat pipi Arlet merona merah.
“Aku tidak mengerti,” jawab Arlet sambil menyembunyikan wajahnya.
“Aku tahu kau mencintai pangeran berkuda putih itu, aku tahu kau yang diam-diam mengamati pangeran itu sambil bersembunyi di balik pohon, mencari waktu yang tepat untuk menaruh buket bunga yang kau rangkai setiap malam ke atas punggung kuda putih miliknya. Aku benar kan?” Airy berkata panjang lebar.         Sedangkan Arlet tak berkata apapun selain menundukkan wajahnya.
Airy menggenggam tangan Arlet lalu berkata, “Kau tidak harus bersembunyi selamanya. Kau tidak jatuh cinta sendiri, pangeran itu juga mencintaimu. Aku yakin alasannya datang kesini adalah buket bunga yang kau buat untuknya. Dia mencarimu, mencari pemiliknya.” Airy berkata meyakinkan.
“Aku, tidak yakin,” kata Arlet terbata.
Airy memandang Arlet dengan penuh keyakinan, “Apa yang membuatmu tidak yakin? Apakah karena kau hanya seorang gadis yang tinggal di hutan bersama peri-peri yang orang-orang sebut khayalan? Apa karena kau tidak memiliki istana dengan dayang-dayang yang siap melayanimu? Kau itu berbeda Arlet. Lihat sekelilingmu, kau punya kami yang selalu ada di sisimu. Istanamu adalah hutan, bunga-bunga itu duniamu. Kau gadis istimewa yang bisa berbicara dengan kami. Peri yang merawatmu sejak kecil. Jika kau selalu memandang materi untuk mengukur cinta, maka itu salah. Cinta itu seperti bisikan alam yang selalu kau dengar, begitu lembut, dan bijaksana,” Airy menghela nafas lalu melanjutkan, “Kau pantas menjadi putri dari seorang pangeran sepertinya. Kau gadis yang memiliki kecantikan di dalam hati.”
Arlet terdiam, memikirkan perkataan Airy. Segala pertanyaan yang ada dibenaknya tiba-tiba menguap entah kemana, ia tahu jawaban atas kegelisahannya selama ini. Atas perasaan yang menuntut untuk diungkapkan.
Saat itu juga, Arlet memilih untuk berani. Meskipun diam-diam ada sesuatu dalam benak hatinya yang berkata jangan. Sesuatu yang kecil itu berbisik pelan, menyelusup ke aliran darah lalu menuju ke pikirannya. Otaknya berbisik, berhentilah jatuh cinta, ia hanya akan membuatmu terluka.
Namun, kata hati Arlet menjawab dengan lembut. Aku jatuh cinta, lalu apa yang salah? Aku jatuh cinta, dan aku berani untuk mengungkapkannya.
Arlet tersenyum menang. Itulah keputusannya.
           

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Tak Penting

Tokyo, dan Penyesalan

Mimpi dan Pertemuan