Surat (dari) Secangkir Kopi (1)
Sumber gambar: @secangkir_untukmu
Pemilik cappuchino sudah lama bersembunyi karena hatinya patah sana-sini. Gadis kekanak-kanakkan itu patah hati enam bulan yang lalu, karena pangeran Chocolatenya pergi tanpa mengucapkan pisah. Rupanya ia masih lari, ah ia memang terlalu di bawa hati. Sebenarnya ia bisa saja melupakannya dalam sekejap, dan jatuh cinta dengan minuman lain seperti Lemon tea atau Tequila Sunrise sejenis wine misalnya?
Baiklah, abaikan siapa yang menulis ini. Pemilik Cappuchino itu perlu diseret lagi dan bertanggung jawab atas kekosongan yang terjadi beberapa bulan ini. Aku bukan penggemarnya, namun melihatnya terluka seperti itu membuat perasaanku miris. Rasanya aku rindu melihatnya tersenyum sendiri di pojokan kedai. Aku masih ingat, ketika ia menyeruput secangkir cappuchino dan tangannya bergerak lincah mengetik sesuatu di laptop berwarna biru miliknya. Wajahnya berseri-seri, seakan ia baru saja mendapatkan sebuah hadiah.
Itu semua terjadi sebelum ia jatuh cinta dengan pria yang katanya suka minum chocolate panas. Ah benar-benar, ia gadis aneh. Dan semuanya bertambah buruk, ketika gadis itu menyadari bahwa hatinya patah. Biar saja kukatakan, ia terlalu berharap. Bagaimana bisa ia berharap pria itu mengucapkan salam perpisahan kepada dirinya, sedangkan selama ini gadis itu hanya berdiam diri sambil mengagumi diam-diam. Bagaimana mungkin, kan?
Pemilik cappuchino, waktu untuk melupakan sudah habis.
Ayo, datang lagi ke kedai, menikmati secangkir cappuchino panas sambil melihat matahari senja. Kau tahu, kau terlalu sibuk menangisi hatimu yang remuk dan sibuk mencintai orang yang bahkan tidak menyadari keberadaanmu. Ah, mau sampai kapan kau bersembunyi sambil menunggu hujan untuk meluapkan semuanya? Cappuchinomu keburu mendingin, bodoh.
Kau tidak akan mengenalku, karena selama ini kau hanya sibuk melihat satu orang di depan matamu.
Ah, aku sakit hati. Bahkan kaupun tak menyadari kalau aku diam-diam mengamatimu setiap sore dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok untuk menumpas bosan.
Kupikir saat itu kau bisa kujadikan objek menarik. Karena kau selalu datang setiap sore, memesan cappuchino, menulis sesuatu, menatap senja. Karena bagiku itu lucu, tapi siapa yang tahu kau malah membuatku penasaran setiap hari dan mendorongku seperti magnet untuk selalu datang ke kedai hanya untuk mengamatimu.
Sepertinya aku terlalu bercerita banyak tentang dirimu yang bahkan kita sendiri belum saling mengenal. Kau pasti akan bertanya-tanya darimana aku tahu semuanya tentangmu bukan?
Lupakan saja. Tenang, aku bukan seorang pria penguntit atau semacamnya.
Gadis Cappuchino, rasanya sudah 120 hari kau menghilang begitu saja. Kau absen datang ke kedai selama itu pula. Biar kubocorkan saja, barista laki-laki yang masih muda itu merasa kehilangan dan kerap bertanya-tanya tentang keberadaanmu. Mungkin dia jatuh cinta padamu wkwkw
Aku seperti hampir lumutan. Tidak alasan khusus ketika aku menulis ini. Hanya menumpas rasa bosan, itu semua karena kau tidak pernah lagi datang. Aku hampir mati bosan. Karena, tanpa kehadiranmu di pojok kedai rasanya begitu hampa. Iya, kuakui, aku rindu rambut panjangmu yang terikat berantakan dan syal merahmu.
Aku hanya rindu. Itu saja. Aku tidak berharap banyak kalau-kalau surat yang sengaja kutitipkan pada barista di kedai benar-benar sampai di tanganmu.
Sudah ya, tanganku pegal menulis banyak-banyak.
Di kedai, secangkir kopi menunggu secangkir cappuchino menemaninya menatap senja.
Salam hangat
Untuk gadis pecinta Cappuchino

Comments
Post a Comment