Ice Lemonmu....
Sedari tadi aku memandang secangkir cappuchino dan Ice lemon yang kupesan
semenjak dua jam yang lalu. Belum kuminum, berharap tiba-tiba kau datang dan
duduk di depanku sambil mengatakan bahwa kau lupa menghabiskan Ice lemon yang
sudah kupesan.
Datanglah, aku benar-benar merindukanmu…
Kau bilang kau tak akan minum Ice lemon jika bukan aku yang memesan
khusus untukmu, dan kau berjanji akan selalu datang jika aku menyebutkan
namamu. Aku sudah menyebut namamu ratusan kali, tapi nyatanya… kau tak ada
disini.
Café ini hampir tutup, sudah jam sembilan malam. Tapi pemiliknya tahu
bahwa aku masih disini, dan dia mengurungkan niatnya untuk menutupnya. Kau
tahu? Ini bukan kali pertama, Malam ini sama seperti malam-malam yang lalu,
entah karena apa aku mau saja melakukan hal bodoh ini.
Ini semua karena aku merindukanmu. Tidakkah kau dengar betapa aku lelah
menyebut namamu, tuan? Apakah kau lupa pada Ice lemonmu? Cappuchinomu?
Satu tahun bergulir begitu saja, malam ini ulang tahunmu, malam ini
kubawakan roti paling special yang pernah ku buat, malam ini kubawakan kado
yang special untukmu, kupesankan ice lemon kesukaanmu…
Tidakkah kau lupa pada malam ini? Malam ketika pertama kali kau utarakan
perasaanmu padaku. Kau lupa?
Kau bilang kau akan kembali, dan berjanji akan meminum habis ice lemonmu..
Mengapa kau mengatakan itu? Aku tak pernah memaksamu untuk mengucapkan
janji sebelum kau pergi meninggalkan bandara sore itu. Kau seharusnya tak perlu
mengatakannya, sehingga aku tak perlu menunggumu pulang sampai sejauh ini.
Bibirku kelu seperti biasa, aku masih mendoakanmu agar tangan Tuhan
selalu memelukmu di sana. Biarlah kutitipkan rindu yang mungkin tak pernah kau
sentuh sekalipun. Seandainya kau tahu aku benar benar merindukanmu. Aku rindu
pada setiap tawamu, nafasku yang berantakan ketika berada di sampingmu,
senyumku yang tak pernah berhenti ketika aku melihatmu begitu serius. Kau
begitu senang menceritakan mimpi dan cita-citamu yang begitu tinggi. Aku kagum
denganmu.
Aku berencana untuk menceritakan hari pertama ketika aku mulai menyukaimu
dulu. Tapi sayangnya kau tak datang… .
Mungkin di London sudah ada gadis lain yang memesankan Ice lemon untukmu.
Ice lemon yang lebih berbeda. Ice lemon yang mampu membuat alismu kembali
turun, dan mampu menciptakan senyum di wajahmu.
Besok aku tak datang lagi kesini.
Barangkali Tuhan kasihan padaku, Ia akan menciptakan keajaiban dan
membawamu kembali padaku malam ini. Atau setidaknya, Dia membuatmu teringat
pada gadis Ice lemon yang namanya perlahan hilang di sela tidurmu. Namun
kau tahu ? Itu tidak mungkin. Aku tidak sebodoh itu.
Percayalah. Aku masih mencintaimu. Masih
sampai di detik mana kau mengecup keningku di bandara sore itu, di detik kau
melengkungkan senyummu yang keterakhir kalinya, di detik dimana ketika langkah
kakimu pelan-pelan menjauh, dan punggungmu yang tak kembali sampai saat ini.
Skenario perpisahan yang tak pernah ingin ku tuliskan disini.
Aku tak akan menunggumu kembali . Aku perlu mengasingkan diri untuk
berdamai dengan realitas dan mengaku kalah atas penyangkalan yang kubuat selama
ini. Setidaknya aku telah
merelakanmu. Tidak apa-apa.
Sudahlah. Aku pergi. Aku akan mencari bahagiaku sendiri, bukan dengan Ice
lemonmu.
Terimakasih atas cerita yang kau buat bersamaku selama ini. Ice lemonmu sudah
mencair, cappuchinoku sudah mendingin. Aku tidak punya kekuatan untuk
membuatnya tetap hangat dan dingin.
Aku pergi. Karena semuanya sudah selesai.

Comments
Post a Comment